Selasa, 22 Desember 2009

Jumat, 04 Desember 2009

gelaran road race perdana di sirkuit baru subang ( dobel launching)


Gelaran Neo Mild Federal Oil Imola Open Road Race dihajat Minggu (28-29/12) adalah terobosan di dunia balap bebek. Pada event itu digelar dua alias dobel launching sekaligus. Yaitu shoft lounching sirkuit permanen kebanggaan warga Subang, Jawa Barat dan peluncuran Federal Oil Racing.

Mari bicara sirkuit dulu dan soal oli silakan lihat boks. Membuat sirkuit permanen adalah pilihan tepat bagi pemerintah Subang. Setiap kali balap digelar di Kota Nanas itu selalu dipenuhi starter lokal. Bahkan, penonton berjubel dan selalu siap mati. He..he.. berani masuk trek ketika balapan berlangsung maksdunya.

Akhirnya Eep Hidayat sang bupati memutuskan berani membangun sirkuit. “Mengucurkan dana APBD Rp 2,4 miliar untuk pembangunan tahap awal,” jelas Pepen Purnama, Ketua Korwil IMI Subang yang juga tokoh otomotif di sana.3456rr-subang-oke-aong.jpg

Sirkuit dibangun di tanah seluas 4 hektar. Masih tahap awal. “Wajar jika masih banyak kekurangan. Tribun, fasilitas penonton dan sarana balap seperti paddock belum dibangun,” jelas Ojang Suhandi, wakil bupati Subang.

Menurut Ojang, pemda akan mengucurkan dana Rp 11 miliar untuk menyelesaikan fasilitas sirkuit. “Treknya sudah bagus, hanya sisi safety yang masih kurang. Seperti pagar penonton belum ada,” jelas Oke Djunjunan, Ketua Pengprov IMI Jawa Barat yang sering survei sirkuit bersama Irawan Sucahyono dan Dian Dilato dari PP IMI.

Termasuk Handy Hariko, mentor OMR Honda ikut hadir dan support. Wajar jika suasna gelaran seperti Honda Racing Championship 2009. Fasilitas dan vendor AHM diboyong kesana. “Asal ada permintaan, satu seri OMR Honda 2010 bakal digelar di Subang,” janji bapak paling pede ini.

Asep Eko pembalap asal Gunung Kidul, Jogja pun hadir pengin jajal sirkuit. “Bagus, banyak tikungan bervariatif. Namun hanya mentok sampai gigi tiga,” jelas Asep yang turun bersama Honda Tunas Jaya Federal Oil pimpinan Heru Purwoko.

Pembalap lokal Subang seperti Adithya Pangestu (Pegasus RPM Techno) dan Arie Octane dari Conection Motiva Bandung malah sedikit mengkritik. “Sirkuit bagus, tapi hadiah kecil. Juga penonton masih nyebrang,” protes Arie.

ENDURANCE TEST

Momen pembukaan sikuit dimanfaatkan Federal Oil. Melaunching Federal Oil Racing dan Federal Oil Supermatic. Berani dijajal untuk tes endurance 30 lap melewan oli buatan luar seperti Motul 300V. Menggunakan tiga motor bebek (110 dan 125 cc) serta 4 skubek bore up 150 cc yang diisi berbagai merek oli.

Setelah dites pembalap seeded dan pemula, mesin dibongkar. Disaksikan pembalap, mekanik, wartawan dan jajaran Pengprov IMI. Hasilnya mengagetkan. Motor yang menggunakan Federal Oil Racing dan Supermatic sedikit mengalami gesekan. “Menggunakan additif dari Amerika dan mesin blending dari Inggris,” jelas Rudy Hartono Husada selaku direktur marketing.

HASIL LOMBA

Bebek 4-Tak Tune-Up 110 cc Open
1. Ivan Atmaja (12) Tangerang Dunia Motor FDR INK Federal Oil Honda
2. Owie Nurhuda (120) Sumadeng Sumber Maju Golden Motor Suzuki
3. Rifki DA (142) Sumedang KRZ Madman Wear Honda
Bebek 4-Tak Tune-Up 110 cc Pemula (MP3)
1. Dadan Alamsyah (155) Subang Yonex Gaspool Feat Clinic Honda
2. Andri Hermansyah (187) DKI Jakarta Showa RCG Honda
3. Krisnovyan (146) Sumedang KRZ Barokah Yamaha
Bebek 4-Tak Tune-Up 125 Pemula (MP4)
1. Jafar Munir (06) Subang Asia BRT Yamaha
2. Andri Hermansyah (187) DKI Jakarta Showa RCG Honda
3. Dadan Alamsyah (155) Subang Yonex Gaspool Feat Clinic Yamaha
Bebek 4-Tak Standar 110 cc Pemula (MP5)
1. Reza Ramdhan(214) Bandung Suhartawan Why Nutt GF Yamaha
2. Bustanul A. (50) Subang Gupita Motor UMC Subang Honda
3. Aditya Pangestu (171) Indramayu RPM Pegasus Techno Yamaha
Matik s/d 150 cc Open
1. Dadan Alamsyah(155) Subang Yonex Gaspool Feat Clinic Yamaha
2. Arie Octane(234) Bandung Conection Motiva Arena Yamaha
3. Aditya Pangestu(171) Indramayu RPM Pegasus Techno Yamaha

Penulis/Foto : Aong
sumber : motorplus-online.com

Selasa, 20 Oktober 2009

sirkuit baru kebanggaan subang


Jabar Punya Sirkuit Baru di Subang

otomotifnet.com

JAWA BARAT, tepatnya Kota Subang tengah bersiap menanti peresmian sirkuit baru mereka yang berlokasi di desa Suka Melang, Subang, Jawa Barat. Berdirinya sirkuit ini merupakan jawaban atas tingginya animo masyarakat Subang terhadap olah raga otomotif.

Sirkuit sepanjang 1.118 meter ini memiliki lebar bervariasi antara 8,5 hingga 12 meter dengan
tingkat elevasi yang beragam sehingga sirkuit ini memiliki trek menanjak dan menurun yang cukup menantang dan sangat representatif untuk menggelar balap motor sekaliber Motoprix, Indoprix maupun Gokart.

Dengan hadirnya sirkuit yang pembangunannya diprakarsai oleh Bupati Subang Eep Hidayat yang sekaligus Ketua Subang Otomotif Club (SOC) diharapkan sirkuit ini merupakan wadah dan pusat kegiatan otomotif di Jawa Barat.

Rencananya, sirkuit yang dibangun dengan biaya APBD sekitar Rp9 miliar secara bertahap ini akan mulai memasuki masa uji coba pada Oktober 2009 mendatang dan kemungkinan besar akan menjadi tempat penyelenggaraan seri akhir Region 2 Kejurnas Moto Prix Indonesia 2009 yang dipromotori oleh Trendy Promo Mandira dan rencananya akan dilangsungkan pada 17-18 Oktober.

Setelah ini pembangunan sirkuit yang lokasinya tak jauh dari kota Bandung ini akan terus
dilanjutkan secara bertahap setiap tahunnya guna melengkapi fasilitas sirkuit dengan paddock, tribun VIP, tribun penonton reguler, kantor pengurus, hingga fasilitas bagi kegiatan usaha pedagang kecil untuk menarik minat pengunjung.

"Dengan dibangunnya Sirkuit Subang diharapkan para remaja yang memiliki hobi dan bakat balap motor bisa disalurkan secara positif dan lebih terarah dan saya pribadi berharap tidak ada lagi kegiatan balap liar di Subang yang sangat mengganggu kepentingan umum," tutur Bupati Subang Eep Hidayat. (Cdx) Penulis : Chadie
sumber, (www.mediaindonesia.com)

Minggu, 13 September 2009

DAWUAN KIDUL JUARA PASANGGIRI TUTUNGGULAN

Dalam rangka lomba pasanggiri tutunggulan ke-2 Bupati Cup se-Kabupaten Subang yang dilaksanakan di Dusun Cinangling Desa Cisampih Kecamatan Dawuan, sebanyak 29 kelompok yang terdiri dari 6 wilayah kecamatan yang ada di Kabupaten Subang telah resmi dibuka oleh Wakil Bupati Subang Ojang Sohandi, S.STP, M.Si dengan didampinggi oleh Bupati Subang Eep Hidayat, M.Si dan Asda I Drs. H. Aseng Junaedi, M.Si. serta dihadiri oleh para unsur muspida dan para camat yang ada di Kabupaten Subang (1/7).

Dalam sambutannya Wakil Bupati Subang memaparkan program Kabupaten Subang yang berbasiskan Gotong Royong. Khususnya di Desa Cisampih, menurut Wakil Bupati, praktek Gotong Royong telah berjalan secara spontan dengan didukung penuh oleh Pemerintah Kabupaten Subang diantaranya melalui seni dan budaya. Dengan diadakannya Lomba atau pasanggiri tutunggulan ini semoga menjadi salah satu perwujudan kepedulian masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Subang akan budaya nenek moyang yang harus selalu dilestarikan sehingga kedepannya Kabupaten Subang menjadi salah satu daerah tujuan wisata budaya sehingga bisa menambah devisa pendapatan daerah Kabupaten Subang.


Tim Tutunggulan Dawuan Kidul

Dalam sambutannya Wakil Bupati juga merasa bangga atas terselenggaranya pasanggiri ini, karena akan membina masyarakat untuk mencintai budaya dan tergugah untuk melestarikannya kembali, contohnya seni budaya tutunggulan ini yang hanya menggunakan lisung dan halu untuk menumbuk padi sehingga menghasilkan irama yang harmonis. Wakil Bupati juga berterima kasih kepada para sesepuh yang telah setia melestarikan seni tutunggulan ini dengan menurunkan bakatnya kepada generasi muda.

Dalam lomba pasanggiri tutunggulan ini, peserta tidak hanya memainkan lisung dan halu saja, akan tetapi bisa membawa alat tradisional tambahan sebagai pelengkap diantaranya jubleg, dulang, kuhkuran atau alat pengeruk kelapa, gentong, kendi dan etem. Jenis penjurian yang dinilai para juri pasanggiri tutunggulan ini diantaranya kekompakan personil, keselarasan dan keserasian nada atau irama serta kreatifitas. Keluar menjadi pemenang dalam pasanggiri tersebut adalah tim tutunggulan dari dusun Dawuan I desa Dawuan Kidul. (www.subang.go.id)

ONCOM DAWUAN

Desa Dawuan, Kecamatan Dawuan mungkin selintas hanya desa biasa di pinggir jalan raya Subang-Jakarta. Tapi, bagi penggemar kuliner lokal, desa ini sejak dulu terkenal dengan oncomnya. Ke desa ini, tak sedikit orang dari Subang kota, Pamanukan, Pabuaran, dan kecamatan-kecamatan lain di Subang sengaja datang hanya untuk membeli oncom yang konon rasanya sangat khas. Bahkan, tak sedikit warga Bandung, Jakarta dan beberapa kota di Jawa Tengah yang menyempatkan diri membeli oncom Dawuan ini sebagai oleh-oleh khas Subang. Doni (35 tahun), misalnya, sengaja datang dari Subang kota untuk membeli oncom Dawuan untuk dikirim ke kerabatnya di Pontianak, Kalbar. Rasa oncom Dawuan ini beda dengan oncom buatan tempat lain, sehingga pantas dijadikan oleh-olehâ, katanya.

Tak hanya itu, oncom Dawuan juga tersebar ke pasar-pasar di Subang. Di Pasar Kalijati misalnya, oncom buatan Dawuan sudah cukup mendarah daging sebagai komoditas perdagangan paling dicari setelah sembako. Di Pasar Baru, Subang, jenis oncom Dawuan ini juga merupakan komoditas yang paling dicari. Bahkan, konon masih banyak pembeli fanatik di Pasar Baru ini yang sengaja mencari oncom Dawuan.

Di Dawuan oncom pertama kali dirintis sekitar tahun 1960-an. Kemungkinan, sejak dulu produksi kacang tanah di desa ini cukup melimpah. Menurut Ketua Kelompok Usaha Kejar Usaha Oncom, Harun (55 tahun), kemudahan bahan dasar kacang tanah ini menjadi daya tarik warga Dawuan untuk mengembangkan usaha keluarga selain pertanian padi. Bapak empat orang anak ini mengaku menggeluti usaha produksi oncom ini sejak tahun 1969, tatkala masih berusia 17 tahun. Kini, Harun yang hanya lulus SD ini konsisten mengelola unit pembuatan oncom berskala rumah tangga.

Banyak suka dukanya menjadi pembuat oncom dawuan ini, kang, katanya. Ia mengenang masa jaya-jayanya oncom Dawuan sekitar sepuluh tahun lalu. Saking terkenalnya oncom Dawuan, kata suami Ny. Uminah ini, oncom Dawuan pernah dipamerkan dalam sebuah event di lokasi wisata air panas Ciater. Menjadi kebanggaan saat itu, karena banyak orang bertanya tentang oncom Dawuan selain tentunya membeli dengan jumlah banyak, kenangnya.

Pembuatan
Memproduksi oncom Dawuan sebenarnya tidak terlalu sulit. Jenis oncom yang dibuat warga Dawuan ini terdiri atas oncom suuk (kacang) atau lazim disebut oncom asli dan oncom dadut dengan bahan campuran kacang dan ampas tahu. Proses pembuatannya rata-rata dua hari dengan bantuan ragi dan pengolahan sederhana melalui kompor minyak tanah. Bambu juga digunakan sebagai bahan sasag atau dasar/alas tempat meletakkan oncom, sedangkan minyak tanah untuk proses penanakannya.
Untuk pengadaan bahan baku, para produsen oncom dawuan ini mengandalkan Pasar Inpres untuk kacang tanah dan Kopti untuk ampas tahu. Rata-rata untuk satu produsen perhari dibutuhkan bahan baku sebanyak 5 kwintal, dengan harga kacang tanah rata-rata Rp 10.000/kg. Untuk membuat oncom yang rasanya enak, harus dibuat dari kacang tanah yang berkualitas. Untuk membuat oncom yang rasanya enak harus dibuat dari kacang tanah yang berkualitas tinggi. Tidak boleh bercampur dengan kacang tanah yang sudah berhama atau buruk karena akan memengaruhi rasa dan aroma oncom.
Kacang tanah yang berkualitas juga mengandung kadar minyak yang cukup tinggi.

Biasanya dari 100 kg kacang tanah bisa menghasilkan minyak kacang sebesar 20 kg. Kacang tanah yang telah dibersihkan dimasukkan ke kampa, sejenis mesin penggilingan kacang tanah. Setelah itu, wujudnya menjadi bungkil mentah. Bungkil mentah tersebut lalu dicetak. Kadar minyaknya dipisahkan dan menjadi bungkil. Bungkil ini selanjutnya direndam dengan air yang sudah dimasak. Setelah 7 jam proses perendaman, bungkil yang sudah berubah jadi serbuk oncom tersebut dimasukkan ke dalam carangka.

Serbuk oncom itu pada sekira pukul 1.00 dini hari diseupan alias dikukus hingga masak, setelah itu dicetak berbentuk empat persegi panjang. Selama 12 jam potongan-potongan oncom tersebut ditutup atau diselimuti dengan karung setelah sebelumnya ditaburi ragi oncom secukupnya agar nantinya timbul jamur-jamur oncom. Setelah berjamur, potongan-potongan oncom diberi sasag yang terbuat dari bambu. Baru selanjutnya oncom siap dipasarkan. Menurut para produsen oncom dawuan, permasalahan yang dihadapi dalam proses produksi ini adalah hasil fermentasi yang tidak stabil, sehingga memungkinkan oncom membusuk.

Makin Menurun
Kini, pamor oncom Dawuan dirasakan Harun dan rekan-rekannya sesama produsen oncom dirasakan menurun. Penurunan ini ditandai dengan makin sedikitnya pembeli dibanding 5 atau 10 tahun lalu, kata beberapa anggota Kelompok Usaha Kejar Usaha Oncom. Ketika ditanya penyebabnya, mereka umumnya tak mengetahui secara pasti. Namun, Harun mensinyalir adanya perubahan selera makan masyarakat yang cenderung beralih ke menu orang kota. Disisi lain, katanya, kemungkinan penyebab lain adalah berkurangnya arus kendaraan yang melewati ruas jalan Subang-Kalijati-Jakarta. Mungkin, orang-orang dari arah barat (Jakarta-red) menuju Bandung kini lebih suka menggunakan jalan tol, ungkapnya. Saat ini untuk memasarkan produknya, mereka juga membuat outlet sederhana di rumah untuk melayani pembeli yang datang, selain menjualnya langsung ke pasar-pasar.

Alasan ini juga diakui beberapa produsen oncom yang masing-masing tinggal tak berjauhan. Mungkin juga kurang promosi kata mereka. Promosi ini menjadi kendala tersendiri bagi mereka. Maklum, kemampuan para pembuat oncom ini baru terbatas pada aspek produksi saja, belum ke aspek perluasan pasar. Meredupnya pamor oncom Dawuan ini tak pelak mengembalikan pola ekonomi rakyat setempat kebentuk pertanian lagi dari sektor industri kecil. Kini, untuk membiayai kebutuhan sehari-hari, kami menggarap sawah yang tidak begitu luas, kata Harun. Hal ini dilakukan karena ia masih berkewajiban membiayai sekolah dua dari empat anaknya.

Dengan bahan baku 5 kuintal, kata Harun, ia meraup keuntungan kotor Rp 75 ribu per hari. Penghasilan bersih tentunya lebih kecil, karena harus dikurangi biaya untuk modal, keluhnya. Penghasilan ini didapat dari penjualan sekitar 5 ancak dari 10 ancak yang diproduksi perhari. Tarip per ancak oncom Dawuan ini tergantung dari jenisnya. Untuk oncom suuk/kacang harganya Rp 50 ribu per ancak atau Rp 500 per potong. Untuk 1 ancak, bisa menjadi sekitar 1.000 potong, kata Harun. Lain halnya dengan oncom dadut, harganya jauh lebih murah. Dengan uang Rp 20 ribu, pembeli dapat memperoleh satu ancak oncom dadut. Murahnya harga oncom dadut ini dikarenakan bahan bakunya campuran antara kacang tanah dan ampas tahu. Sementara oncom asli bahannya melulu kacang tanah.

Selama ini, Harun dibantu anggota keluarganya untuk memproduksi oncom. Pola pemanfaatan tenaga kerja keluarga ini juga diterapkan para produsen lain. Langkah ini mengurangi biaya tenaga kerja yang saat ini tak mungkin terbayar, kata rekan-rekan harun. Untuk permodalan, selama ini ia beserta kelompok usahanya menjalin kerjasama dengan pihak BRI unit. Mengenai berbagai kendala ini, Harun dan rekan-rekannya berharap adanya ketulusan pihak terkait untuk lebih memperhatikan para produsen oncom yang belum terfasilitasi, baik dari segi pemasaran maupun permodalan.. Harapan kami, dimasa depan produksi oncom meningkat dan dikembangkan dengan memproduksi gorengan oncom, kata mereka.(www.oncom.dagdigdug.com)

kampung jati mas

Bagi sebagian penduduk kota besar seperti Jakarta, menikmati sejuknya hembusan angin pegunungan berteman dengan merdunya nyanyian burung-burung penghuni rimbunnya pepohonan dapat menjadi pelipur penat lepas bertarung di atas tumpukan beton pencakar langit. Dada yang sesak akibat asap kendaraan serta gendang telinga yang bising oleh raungan knalpot terpaksa memang harus diresapi demi mengejar sebuah penghidupan yang sempurna.
Well, ketimbang stress lantaran memikirkan pekerjaan yang tidak ada habisnya, lebih baik Anda segera mengarahkan mobil kesayangan menuju daerah Subang, Jawa Barat. Yah, hitung-hitung pelesir bersama keluarga tercinta yang mungkin sudah mulai jarang Anda lakukan.
Thanks for the great innovation called jalan tol, perjalanan menuju sebuah resort yang mengedepankan pesona agrowisata berjuluk Kampoeng Jati Mas menjadi lebih mudah dan cepat. Untuk mencapai kawasan wisata yang terletak di Desa Kampung Pasir Bilik, Kecamatan Jalancagak tersebut hanya membutuhkan waktu kurang lebih 2,5 jam. Namun saya jamin perjalanan tersebut tidak bakal terasa melelahkan . Karena kita dihibur oleh indahnya pemandangan sawah menghijau yang terhampar di pinggir jalan berkelok dan menanjak.
Di lokasi seluas 22 hektar yang berada di atas sebuah bukit ini, mata kita seolah disihir oleh panorama Gunung Cangak, Tangkuban Perahu, Tampomas dan Gunung Burangrang. Untuk mencairkan kembali kepala yang sesak dengan rutinitas, Anda dapat mencoba spa and theraphy. Toh tidak ada salahnya kan kalau kita sekali-kali memberi perlakuan istimewa terhadap tubuh kita sendiri. Lagipula selagi Anda memanjakan badan, istri tercinta dapat memilih berbagai jenis tanaman anggrek, afhordia, kamboja Jepang, hingga bibit 5.500 pohon jati mas yang tertata apik di dalam tujuh unit green house seluas 30 x 15 meter persegi tersebut. Istri Anda pun dapat sekalian memanen buah strawberry segar langsung dari pohonnya.


Lalu apa kegiatan yang cocok untuk buah hati Anda? Jangan khawatir, mereka juga bisa menikmati sensasi bertualang di alam bebas di atas unit ATV (All Terrain Vehicle), menunggang kuda, atau bahkan bersenda gurau di wahana flying fox, spider web, dan wall climbing yang diasuh oleh petugas-petugas berpengalaman.
Lelah beraktifitas seharian? Maka kini saatnya Anda menjajal penganan khas tanah Sunda hasil olah ide chef – chef profesional Kampoeng Jati Mas. Misalkan saja nasi kelemeng. Jenis nasi yang kerap disebut nasi liwet ini dimasak di dalam buah kelapa yang digarang di atas tungku, maka di cafĂ© Balik Deui nasi yang telah diberi larutan santan dan potongan daun serai tersebut dimasak di dalam kastrol atau wadah besi. Selanjutnya, hidangan dilengkapi dengan topping ikan asin jambal roti serta petai yang kian mantap menjadi selingan lauk tahu, tempe, dan ayam goreng sambal dadak. Segelas ramuan Si Jambrong alias campuran jus strawberry dan nenas bisa menjadi penutup yang menyegarkan.
Wuihh, mantap kan? Mendengarnya saja, saya serasa ingin meneteskan air liur. Tapi tahan dulu! Setidaknya sampai Anda merasakan steak andalan cafĂ© hasil olah keempukan irisan daging sirloin dan tenderloin yang dipanggang di atas bara api. Selaras dengan tema nusantara yang dianut oleh lokasi berkonsep one stop resort ini, maka western food tersebut dipadukan dengan cita rasa Sunda yang cukup kental. Jadi jangan heran jika Anda disajikan pilihan saus balado, rendang atau semur hingga side dishes berupa cassava (singkong) dan karedok sebagai pengganti kentang dan selada. Cukup unik kan? Sebagai hidangan penutup, Anda harus mencoba perpaduan antara cita rasa gurih dan manis cita rasa Sampey Edan.Makanan ini terbuat dari potongan singkong lembut yang disiram oleh lapisan fla yang terbuat dari tepung beras dan pandan dicampur strawberry. Hmmm…yummy…


Ingin merasakan segarnya udara pagi khas pegunungan sembari mendengarkan celoteh burung-burung liar yang hinggap di dahan jati? Just check-in the bungalows. Untuk sementara ini tempat-tempat peristirahatan yang tersedia menggunakan konsep Rumah Palembang. Sedangkan beberapa bungalow dengan konsep nusantara lainnya masih dalam tahap pengembangan. Guna dapat menikmati semua fasilitas yang ada di Kampoeng Jati Mas, para tamu cukup merogoh kocek antara Rp. 1.250.000 hingga Rp. 2.000.000. Namun rasa-rasanya harga tersebut masih belum mampu menebus indahnya suasana pedesaan yang akan Anda dapatkan. Such a heavenly paradise…
(Penulis:Dipo Ario /www.asco.co.id)

Kampoeng Jati Mas
Desa Kampung Pasir Bilik
Kecamatan Jalan Cagak
Subang, Jawa Barat
phone . +62260 470620 or +628886072548
fax. +62260 470620

kampung jati mas

Bagi sebagian penduduk kota besar seperti Jakarta, menikmati sejuknya hembusan angin pegunungan berteman dengan merdunya nyanyian burung-burung penghuni rimbunnya pepohonan dapat menjadi pelipur penat lepas bertarung di atas tumpukan beton pencakar langit. Dada yang sesak akibat asap kendaraan serta gendang telinga yang bising oleh raungan knalpot terpaksa memang harus diresapi demi mengejar sebuah penghidupan yang sempurna.
Well, ketimbang stress lantaran memikirkan pekerjaan yang tidak ada habisnya, lebih baik Anda segera mengarahkan mobil kesayangan menuju daerah Subang, Jawa Barat. Yah, hitung-hitung pelesir bersama keluarga tercinta yang mungkin sudah mulai jarang Anda lakukan.
Thanks for the great innovation called jalan tol, perjalanan menuju sebuah resort yang mengedepankan pesona agrowisata berjuluk Kampoeng Jati Mas menjadi lebih mudah dan cepat. Untuk mencapai kawasan wisata yang terletak di Desa Kampung Pasir Bilik, Kecamatan Jalancagak tersebut hanya membutuhkan waktu kurang lebih 2,5 jam. Namun saya jamin perjalanan tersebut tidak bakal terasa melelahkan . Karena kita dihibur oleh indahnya pemandangan sawah menghijau yang terhampar di pinggir jalan berkelok dan menanjak.
Di lokasi seluas 22 hektar yang berada di atas sebuah bukit ini, mata kita seolah disihir oleh panorama Gunung Cangak, Tangkuban Perahu, Tampomas dan Gunung Burangrang. Untuk mencairkan kembali kepala yang sesak dengan rutinitas, Anda dapat mencoba spa and theraphy. Toh tidak ada salahnya kan kalau kita sekali-kali memberi perlakuan istimewa terhadap tubuh kita sendiri. Lagipula selagi Anda memanjakan badan, istri tercinta dapat memilih berbagai jenis tanaman anggrek, afhordia, kamboja Jepang, hingga bibit 5.500 pohon jati mas yang tertata apik di dalam tujuh unit green house seluas 30 x 15 meter persegi tersebut. Istri Anda pun dapat sekalian memanen buah strawberry segar langsung dari pohonnya.


Lalu apa kegiatan yang cocok untuk buah hati Anda? Jangan khawatir, mereka juga bisa menikmati sensasi bertualang di alam bebas di atas unit ATV (All Terrain Vehicle), menunggang kuda, atau bahkan bersenda gurau di wahana flying fox, spider web, dan wall climbing yang diasuh oleh petugas-petugas berpengalaman.
Lelah beraktifitas seharian? Maka kini saatnya Anda menjajal penganan khas tanah Sunda hasil olah ide chef – chef profesional Kampoeng Jati Mas. Misalkan saja nasi kelemeng. Jenis nasi yang kerap disebut nasi liwet ini dimasak di dalam buah kelapa yang digarang di atas tungku, maka di cafĂ© Balik Deui nasi yang telah diberi larutan santan dan potongan daun serai tersebut dimasak di dalam kastrol atau wadah besi. Selanjutnya, hidangan dilengkapi dengan topping ikan asin jambal roti serta petai yang kian mantap menjadi selingan lauk tahu, tempe, dan ayam goreng sambal dadak. Segelas ramuan Si Jambrong alias campuran jus strawberry dan nenas bisa menjadi penutup yang menyegarkan.
Wuihh, mantap kan? Mendengarnya saja, saya serasa ingin meneteskan air liur. Tapi tahan dulu! Setidaknya sampai Anda merasakan steak andalan cafĂ© hasil olah keempukan irisan daging sirloin dan tenderloin yang dipanggang di atas bara api. Selaras dengan tema nusantara yang dianut oleh lokasi berkonsep one stop resort ini, maka western food tersebut dipadukan dengan cita rasa Sunda yang cukup kental. Jadi jangan heran jika Anda disajikan pilihan saus balado, rendang atau semur hingga side dishes berupa cassava (singkong) dan karedok sebagai pengganti kentang dan selada. Cukup unik kan? Sebagai hidangan penutup, Anda harus mencoba perpaduan antara cita rasa gurih dan manis cita rasa Sampey Edan.Makanan ini terbuat dari potongan singkong lembut yang disiram oleh lapisan fla yang terbuat dari tepung beras dan pandan dicampur strawberry. Hmmm…yummy…


Ingin merasakan segarnya udara pagi khas pegunungan sembari mendengarkan celoteh burung-burung liar yang hinggap di dahan jati? Just check-in the bungalows. Untuk sementara ini tempat-tempat peristirahatan yang tersedia menggunakan konsep Rumah Palembang. Sedangkan beberapa bungalow dengan konsep nusantara lainnya masih dalam tahap pengembangan. Guna dapat menikmati semua fasilitas yang ada di Kampoeng Jati Mas, para tamu cukup merogoh kocek antara Rp. 1.250.000 hingga Rp. 2.000.000. Namun rasa-rasanya harga tersebut masih belum mampu menebus indahnya suasana pedesaan yang akan Anda dapatkan. Such a heavenly paradise…
(Penulis:Dipo Ario /www.asco.co.id)

Kampoeng Jati Mas
Desa Kampung Pasir Bilik
Kecamatan Jalan Cagak
Subang, Jawa Barat
phone . +62260 470620 or +628886072548
fax. +62260 470620

SEJARAH PERKEBUNAN DI SUBANG JAWA BARAT

A. Sejarah Singkat PT Perkebunan Nusantara VIII
Didalam menguraikan pasal ini berhubung Perkebunan yang pengelolaannya selalu berganti - ganti, maka untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai sejarah Pekebunan ini, maka membagi waktu perjalanan rodasejarah perkebunan ini dalam tiga periode, yaitu :

1. Periode Jaman Pemerintahan Belanda
2. Periode Jaman Pemerintaha jepang
3. Periode Jaman Kemerdekaan, yang terbagi pula menjadi luma tingkat, yaitu :
a. Tingkat pengusahaan oleh pemerintah daerah jawa barat.
b. Tingkat pengusahaan sementara.
c. Tingkat pengusahaan penuh.
d. Tingkat kembali ketangan pemerintah RI.

1. Periode Jaman Pemerintah Belanda

Pada tahun 1812 dua orang bernama Mutinghe dan Sharpnell memberi dua bidang tanah yang sangat luas, ialah tanah Pemanukan dan tanah Ciasem dari Pemerintah.
Kemudian tanah tersebut didaftarkan dengan nama “ PAMANUKAN EN TJIASEM LANDEN “ ( P en T Landen ).

Tanah-tanah tersebut merupakan satu bidang tanah yang luasnya 212.900 hektar, dengan hak Eigendom, dengan batas-batasnya sebagai berikut :
a. Utara : Laut Jawa.
b. Timur : Sungai Cipunagara dan sebagian keresidenan Cirebon.
c. Selatan : Tanah-tanah terbentang sampai pegunungan.
d. Barat : Keresidenan Priangan dan sungai Cilamaya.

Tanah-tanah tersebut pada waktu itu tidak banyak hasilnya. Hanya terdiri dari pada beras, kelapa dan kopi, sedangkan yang ditanam oleh Rakyat atau Penduduk yaitu gula dan arak yang dibuat secara sedehana sekali.

Sepeninggal Tuan Sharpnell pada tahun 1930, diangkat seorang Manager atau Penguasa yang selain ditugaskan untuk mengusahakan tanah-tanah itu, juga diberi tugas Khusus/terpenting, yaitu “Penghematan Keras Dalam Pengeluaran Uang“

Pada tahun 1840 tanah-tanah tersebut dari bangsa Inggris dijual kepada dua orang bersaudara dari negri Belanda, yaitu Hofland bersaudara dengan susah payah maka diputuskanlah untuk merubah tanah-tanah itu dijadikan N.V.

Hal ini dilakukan oleh karena Hofland bersaudara membutuhkan modal tambahan mengusahakan tanah-tanah itu.

Perlu dijelaskan disini bahwa oleh karena tanah-tanah itu belum seluruhnya ditanami oleh tanaman perkebunan, maka sampai saat ini belum dapat disebut Perusahaan Perkebunan.

Dengan demikian maka pada tahun 1886 didirikanlah N.V. Haatschapij Ter Eksploitatie Der Pamanukan En Tjiasem Landen.

Dari tahun 1886 hingga tahun 1911 sebagian besar dari saham-saham berada ditangan Landbow Maatschapij ( N.I. Hand Elsbank ).

Kemudian saham-saham tersebut dalam tahun 1911 dibeli oleh “ The Anglo Dutch Plantation Of Java Ltd.” Di London, oleh karena itu maka tanah-tanah P & T Landen tersebut berada kembali pada tangan bangsa Inggris. Perlu juga diterangkan disini bahwa pada tahun 1953 nama N.V. Maatschapij der Exloitate Der Pamanukan En Tjiasem Landen, telah dirubah menjadi :
“P & T LANDS PT” dan nama “THE ANGLO DUTCH” juga dirubah menjadi “THE ANGLO INDONESIAN PLANTATION LTD”.

Pada waktu tanah-tanah itu kembali ketangan bangsa Inggris, maka luasnya masih tetap seperti pada permulaan yaitu seluas 212.900 hektar.

Daerah seluas ini merupakan tanah pertikulir terbesar di Pulau Jawa pada masa itu. Pada waktu itu P&T Lands berkantor pusat di kota Subang, dengan membawahi 22 Perkebunan yang terdiri dari 13 Perkebunan Karet, 9 Buah Perkebunan Teh dan ditambah dengan sebuah Pusat Perbengkelan, satu buah Pusat Pergudangan, (Gudang Hasil dan Gudang Supply), serta sebuah Rumah Sakit yang terletak di kota Subang.


2. Periode jaman Pemerintahan Jepang

Pada tahun 1942 mendaratlah tentara Jepang di Pulau Jawa. Maka perkebunan-perkebunan di Indonesiapun jatuh pula ketangan Pemerintahan Jepang.

Pada masa pendudukan Jepang dan tahun-tahun revolusi selanjutnya membawa perubahan penting bagi keadaan PerusahaanPerkebunan kepunyaan P&T Lands, kerugian yang diderita sangatlah menyedihkan. Dan tenyata dari 22 buah Perkebunan itu, tidak kurang dari 10 buah perkebunan dengan luasnya 9.200 hektar sebagian besar telah hancur sehingga tidak mungkin diusahakan lagi. Dua buah Perkebunan dikembalikan lagi kepada Pemerintah, enam buah Perkebunan lainnya telah dijual.
Keadaan di lingkungan Subang tidak lebih baik dari Perkebunan Sisal “Sukamandi” 90% telah dibongkar dan hanya beberapa ratus hektar saja yang masih terdapat tanaman Sisal yang tidak menghsilkan lagi.

Perusahaan padi “Sukamandi” yang besar dan didirikan antara tahun 1930 dan tahun 1940 dengan ongkos yang mahal telah terhenti. Sebanyak 8.000 hektar sawah yang dapat diairi telah di pakai dan ditempati oleh penduduk setempat secara tidak syah. Sekalipun rintangan-rintangan yang berat ini, hak milik atas tanah tidak terganggu oleh karenanya.

Tanah Eigendom memang dipakai dan ditempati oleh penduduk setempat secara tidak syah, tetapi bagaimanapun masih tetap dapat dan mungkin dikembalikan untuk dipergunakan. Akan tetapi tahun 1949 pemerintah Republik Indonesia telah menyatakan keinginannya untuk membeli kembali semua tanah yang tidak langsung dibutuhkan oleh P&T Lands, guna kepentingan rakyat atau penduduk. Sebaliknya demikian Pula, Pemerintah Republik Indonesia ingin mengembalikan beberapa ribu hektar Hutan Hydrologis menjadi tanah Pemerintah. Maka dengan demikian telah di jual kepada Pemerintah seluas 22.100 hektar tanah yang meliputi seluruh Perusahaan Padi Sukanagara dan beberapa ribu hektar tanah-tanah persedian dan hutan-hutan Hydrologis, sedangkan P&T Lands diperkenankan memiliki 45.600 hektar tanah Eigendom dan 750 hektar tanah-tanah Erfpacht.

3. Periode Jaman Kemerdekaan

Dalam rangka Konfrontasi antara negara Indonesia dengan Malaysia, oleh karena negara Malaysia dianggapnya menjadi proyek Neo Kolonialisme dan Imprialisme Inggris, maka perusahaan-perusahaan perkebunan milik inggris yang berada di Pulau Jawa, termasuk P&T Lads mengalami tiga fase perubahan, yaitu :

a. Tingkat pengawasan oleh pemerintah Jawa Barat
Dimulai sejak bulan September 1963, yang berlandaskan kepada Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat nomor : 376/BI/Pem/Sek/1963 tertanggal 19 September 1963 yang menentukan bahwa semua Perusahaan milik Inggris yang berada dalam wilayah Jawa Barat, diawasi sepenuhnya oleh Pemerintah Daerah Jawa barat.

b. Tingkat Pengawasan Sementara
Dimulai sejak bulan Pebruari 1964, yang berdasarkan kepada Surat Keputusan Mentri Pertanian / Agraria nomor : 31/MPA/1964, yang menentukan bahwa semua perusahaan milik Inggris yang berada dalam wilayah Republik Indonesia, diawasi sementara oleh Pemerintah Pusat.

c. Tingkat Penguasaan Penuh
Menurut Penetapan Presiden Republik Indonesia nomor : 6/1964, yang dikeluarkan dan di undangkan pada tanggal 26 Nopember 1964, maka semua perusahaan-perusahaan milik Inggris yang ada dalam wilayah nergara Republik Indonesia, dikuasai sepenuhnya secara langsung serta diurus oleh Pemerintah Pusat.

Terhitung mulai tanggal dikeluarkannya Surat Edaran Perdana Mentri III nomor D/VII/0452/H-5/1964, tertanggal 31 Januari 1964. Penetapan Presiden tersebut selanjutnya menentukan bahwa pengurusan semua perusahaan milik Inggris yang mengusahakan sendiri dan atau menguasai usaha-usaha dalam bidang perkebunan dilakukan oleh Departemen Perkebunan.

Dengan demikian sebagai pelaksana penetapan Presiden tersebut dalam bulan desember 1964, Mentri Koordinator Kompartemen Pertanian dan Agraria telah menyerahkan perusahaan-perusahaan Perkebunan Dwikora kepada Mentri Perkebunan. Adapun yang dimaksud dengan perusahaan-perusahaan Dwikora adalah perusahaan-perusahaan Perkebunan bekas milik Inggris, yang dijadikan tujuh kelompok kesatuan, yang menginduk kepada sebuah BPU (Badan Pimpinan Umum) yang berkedudukan di Jakarta.

d. Tingkat Joint Venture
Join Venture adalah suatu bentuk kerjasama antara modal asing dengan modal nasional.

Bentuk usaha bersama ini didasarkan kepada undang-undang nomor : 1/1967, tentang Penanaman Modal Asing.
Penanaman Modal Asing menurut undang-undang ini dapat dilakukan dalam bentuk perusahaan yang dari semula modalnya 100% dari modal asing dan modal nasional. Maka sejak tanggal 1 Januari 1970 secara Administratif telah dinyatakan bahwa perusahaan-perusahaan ini telah mengambil bentuk Joint Venture antara pemerintah Republik Indonesia dengan pengusaha-pengusaha Inggris,dengan perbandingan modal masing-masing sebasar 30% dan 70%.

e. Tingkat kembali ketangan pemerintah Republik Indonesia
Berdasarkan Keputusan Pemerintah Pusat untuk membeli saham yang dimiliki oleh Inggris, maka status Perusahaan Perkebunan Negara Kesatuan IV adalah 100% menjadi milik bangsa Indonesia. Hal ini didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan serta faktor-faktor lainnya.

Dengan melihat kepada perjalanan sejarah Perkebunan tersebut di atas, maka kita dapat ketahui bahwa perusahaan perkebunan ini mengalami peralihan-peralihan sebagai berikut :
Tahun 1812 - 1839 berada ditangan bangsa Inggris
Tahun 1840 - 1910 berada ditangan bangsa Belanda
Tahun 1911 - 1942 berada ditangan bangsa Inggris
Tahun 1942 - 1945 berada dibawah pemerintah Jepang
Tahun 1945 - 1948 berada dibawah pemerintahan Indonesia
Tahun 1949 - 1963 berada ditangan bangsa Inggris
Tahun 1964 - 1969 berada ditangan bangsa Indonesia
Tahun 1970 - Sejak 1 Januari 1970 sudah berbentuk Joint Venture
Tahun 1970-1972 Sejak tanggal 20 Juli 1970 status Perusahaan Perkebunan Negara Kesatuan Dwikora IV adalah menjadi milik Negara Indonesia
Tahun 1972 - 1973 Dikelola oleh PPS ( perusahaan Perkebunan Subang )
Tahun 1973 - 1979 Mulai tanggal 1 Maret 1973 sampai dengan tanggal 28 Pebruari 1979
Tahun 1979 -....... Mulai tanggal 1 Maret 1979 PT Perkebunan XXX dibubarkan dan dilimpahkan kepada :

1. PT Perkebunan XII
2. PT Perkebunan XIII
3. PT Perkebunan XIV

Tanggal 11 Maret 1996 di Subang terdiri dari tiga PTP :
1. PTP XI
2. PTP XII
3. PTP XIII
(www.kebunjalupang.blogspot.com)

Rabu, 03 Juni 2009

SUKU SUNDA,,,,,

Suku sunda mah meuni raramah pisan lah

CURUG CI JALU SUBANG

Before it is called Cijalu, the waterfall is called Cikondang. There came a fighter or a man who had a 'jalu' or "Sih" (Spur), which denoted a man of bravery, since then the waterfall is called Cijalu.

Situated in Cipancar Village, Sagalaherang Sub District, Subang Regency. The height is about 70 meters and the distance from Subang is about 37 km to the south, from Bandung about 62 km to the North, and from Jakarta about 157 km via Subang. This site is very comfortable for camping.


CURUG CILEAT SUBANG







Cileat Waterfall is located in the Cisalak Village to be precise in the Mayang Village. From Subang ± 37 km to the south and from Bandung ± 50 km to the north. Cileat Waterfall is one of the tourist attractions that still natural, with the height ± 100 m sea level. The climate and the scenery is beautiful.

curug BATU KAPUR


The other name of Curug Agung is Batu Kapur (Limestone). It is located in the Curug Agung village, Sagalaherang Subdistrict. There are Hot Springs with the temperature 40.0 - 45.0 C, the hut and children's recreation area. Based on the experience, this water could cure scabies...

karya tulis bahasa inggris, tentang subang, dawuan, kalijati, sejarah subang, informasi wisata, dawuan subang, makanan khas subang

selengkapnya,, baca baca dulu posting sebelum2 nya,,,

Selasa, 12 Mei 2009

LION DANCE / SISINGAAN SUBANG


The Sisingaan (lion dance) is a mass event in colossal cultural ceremonies. A lion sculpture, originating in Subang, is carried around by four to six men, accompanied merrily by the musical drums of Pencak Silat. Dashing gestures and colorful clothing allow the dancers to impart an impression of courage and heroism.


It’s a kind of very famous traditional not only in West Java or Indonesia but however internationally, the Dance festival is held and followed by the groups of the art coming from all sub districts in Subang Regency.

With every performance, the Sisingaan hopes to spread knowledge and appreciation of West Javanese dance and to continue its practice among new generations. (westjava.info)

DARI PERISTIWA THE BATTLE OF JAVA SEA HINGGA PENYERAHAN TANPA SYARAT DI KALIJATI, SUBANG

DALAM peristiwa the battle of Java Sea 27 Februari 1942 antara pasukan sekutu pimpinan Laksamana KWFM Karel Doorman dan Belanda kalah dari pasukan Jepang. Pasukan sekutu dengan flagship-nya De Ruyter kalah oleh pasukan Jepang yang dipersenjatai Long Launch Terpedo yang berjarak jangkau 40/km dengan kecepatan 35 km/jam dan meluncur tanpa jejak di air.

Dalam pertempuran laut Jawa ini, sejumlah besar orang Indonesia terutama yang bertugas di kapal perang Belanda mengalami nasib nahas. Di kapal De Ruyter saja ada 108 orang Indonesia yang menjadi korban, 74 di antaranya tewas di tempat. Meski rata-rata kedudukan mereka tidak lebih tinggi dari inheemse matros, stoker atau sekadar sebagai inheemse jongen.

Historis kekalahan demi kekalahan Belanda dengan sekutunya (Amerika, Inggris, dan Australia), hingga menyeret Belanda ke meja perundingan di Kalijati, Subang, Jawa Barat, 8 Maret 1942, menjadi salah satu bagian cerita yang dipaparkan Kapten Penerbang, Sodikin, Penanggung Jawab Rumah Sejarah dan Museum Amerta Dirgantara Mandala Suryadarma, Kalijati, Kab. Subang, Jawa Barat, kepada 130 orang peserta Ekspedisi Situs dan Bangunan Cagar Budaya, yang diselenggarakan Balai Kepurbakalaan, Nilai Tradisi dan Sejarah Jawa Barat.

"Hal ini merupakan kesempatan sangat langka dan jarang didapat dari buku sejarah sekalipun. Di sini, benda-benda koleksi museum mampu menguatkan cerita yang disampaikan dan kita seakan dibawa dan turut merasakan peristiwa heroik," ujar Dra. Romlah, Kepala Seksi Pelestarian Balai Kepurbakalaan, Nilai Tradisi dan Sejarah Jawa Barat.

Jawa Barat, seperti halnya daerah-daerah lain yang menjadi pusat pergerakan kemerdekaan Indonesia, menjadi tempat yang sangat menarik untuk melakukan wisata sejarah maupun budaya. Tidak hanya mengunjungi bangunan-bangunan tua bernilai sejarah, tetapi juga lokasi temuan benda-benda prasejarah.

Salah satunya adalah Rumah Sejarah dan Museum Amerta Dirgantara Mandala Suryadarma, Kalijati, Kab. Subang, Jawa Barat, di mana selain menyaksikan langsung pesawat-pesawat yang pernah digunakan untuk bertempur pasukan Jepang dan kemudian digunakan para pejuang bangsa ini, kita juga disuguhi berbagai cerita heroik pertempuran. Semisal, pesawat L-4J Piper Cub yang pernah digunakan untuk operasi menumpas DI/TII di Jawa Barat, yang hingga kini masih terawat dengan baik.

Pesawat jenis ini pula yang digunakan pasukan Jepang Letnan Jenderal Hithoshi Imamura, untuk membumihanguskan Kota Bandung, sebelum Hein Terporten akhirnya menandatangani penyerahan Belanda atas Jepang di Kalijati 9 Maret 1942. Selain peswat L-4J Viper Cub, juga terdapat pesawat Viper Cherokee buatan Amerika yang selama masa kemerdekaan menjadi sarana transportasi, pesawat latih PZL Glatik dan PVA.

Masih di kawasan Kalijati, Subang, wisata sejarah juga dapat diteruskan dengan mengunjungi bunker-bunker maupun parit tempat pertempuran. Juga Rumah Sejarah, yang menjadi saksi bisu penyerahan kekuasaan Belanda yang telah menjajah Indonesia selama 350 tahun kepada Jepang, 8 Maret 1942. Rumah Sejarah awalnya dibangun tahun 1917 untuk rumah dinas perwira Staf Sekolah Penerbang Hindia Belanda di PU Kalijati. Guna mengenangnya sebagai tempat bersejarah, pada 21 Juli 1986 atas inisiatif Komandan Lanud Kalijati saat itu, Letnan Kolonel Pnb Ali BZE meresmikannya sebagai museum dengan nama "Rumah Sejarah".

Saat menjejaki kaki di teras rumah, kita dihadapkan pada tonggak dari semen beton bertuliskan huruf kanji. "Ini merupakan kata sandi yang hingga kini belum dapat diungkap maknanya. Kemungkinan besar ini adalah kata kunci yang disampaikan oleh Imamura. Bahkan mantan Gyugun maupun Kalijati Kai (perkumpulan mantan prajurit yang pernah bertugas di Kalijati), juga belum dapat mengungkap rangkaian kalimat tersebut.

Memasuki ruang samping, kita akan disuguhi diorama dan foto-foto yang berkenaan dengan pertempuran yang terjadi di Lapangan Udara Kalijati. Diawali dengan mendaratnya pasukan tentara Jepang ke Eretan Wetan dipimpin Kolonel Shoji dan merangsek masuk ke Subang melakukan pertempuran dengan pasukan Sekutu, hingga dapat direbutnya Lapangan Udara Kalijati.

Selain itu, juga dipampang tulisan menyerahnya pemerintahan Belanda kepada Jepang dan dialog Panglima Imamura dengan Gubernur Jenderal Belanda serta Panglima Ter Porten. Terdapat pula foto bersama pejabat kedua negara setelah/sebelum perundingan dan foto bangunan lama di PU Kalijati. Pada sisi kanan terdapat lukisan menggambarkan tiga lokasi pendaratan pasukan Jepang ke Indonesia.

Di ruang tengah, tempat perundingan terdapat meja persegi panjang dengan delapan kursi kuno beserta kain penutup bercorak kotak-kotak hitam putih. Di depan tiap kursi terdapat nama para pejabat Belanda dan Jepang saat melakukan perundingan. Pada sisi kanan kirinya terdapat dua bendera kedua bangsa dan pada tembok menempel lukisan suatu momen perundingan.

Pada kamar kedua terdapat rak buku-buku, album foto, dan radio kuno. Di sampingnya terdapat papan foto-foto sejarah mengenai kondisi Sekolah Penerbang Belanda dan mes para penerbang dan kru pesawat di PU Kalijati. Terdapat juga foto kondisi PU Kalijati, PU Husein Sastranegara Bandung, PU Semarang, dan PU Cililitan di Jakarta. Di samping itu, ada foto-foto pesawat tempur Jepang dan aktivitas tentara Jepang.

Di kamar ketiga terdapat sebuah tempat tidur kuno dari besi, wastafel, dan papan foto-foto pesawat tempur Jepang. Terdapat pula papan yang bertuliskan proses penyerahan kekuasaan Belanda kepada Jepang dalam bahasa Jepang dan Belanda. Kemudian di ruang belakang terdapat sebuah ruangan bekas kamar mandi dan dapur. Di beranda belakang rumah terhampar halaman luas, dari pintu belakang terdapat jalan berlantai dan beratap sirap menuju ke bangunan pada sisi kiri halaman.

Jangan lupa kunjungi juga Tugu Kinoshita atau Monumen Sejarah Tentara Jepang. Di tempat ini pula setiap bulan September mantan tentara jepang ataupun keluarganya melakukan ritus doa bersama. Di lokasi ini bersemayam Sersan Kinoshita meninggal saat pertempuran melawan Belanda.

Selain mantan para prajurit Jepang dan keluarganya yang secara rutin berkunjung, sejak diresmikan 21 Juli 1986, untuk sekadar mengenang terhadap peristiwa bersejarah itu, para pelaku perjuangan kemerdekaan tanah air kembali terkenang. Semisal yang selama ini dilakukan Yayasan 19 September 1945 dan Yayasan Ermelo 96 sebagai paguyuban para pelaku perjuangan kemerdekaan.

Belakangan, Rumah Sejarah dan Museum Amerta Dirgantara Mandala Suryadarma, Kalijati, Kab. Subang, Jawa Barat, menjadi salah satu objek tujuan wisata sejarah tidak hanya bagi para mantan prajurit Jepang maupun para pejuang, tetapi juga bagi siswa-siswa sekolah untuk studi tur dari taman kanak-kanak sampai sekolah menengah atas bahkan mahasiswa. Wisata sejarah kini bukan lagi menjadi wisata pendidikan ataupun wisata alternatif, tetapi memang wisata yang mengasyikkan.

Selain jaraknya yang hanya sekitar 48 kilometer dari Kota Bandung atau sekitar 10 kilometer dari Kota Subang, untuk mencapai lokasi sangat mudah. Sepanjang perjalanan pun banyak pemandangan yang dapat dinikmati. (Retno HY/"PR")***

Minggu, 08 Maret 2009

awalna subang lembur kuring

Prasejarah
Bukti adanya kelompok masyarakat pada masa prasejarah di wilayah Kabupaten Subang adalah ditemukannya kapak batu di daerah Bojongkeding (Binong), Pagaden, Kalijati dan Dayeuhkolot (Sagalaherang). Temuan benda-benda prasejarah bercorak neolitikum ini menandakan bahwa saat itu di wilayah Kabupaten Subang sekarang sudah ada kelompok masyarakat yang hidup dari sektor pertanian dengan pola sangat sederhana.
Selain itu, dalam periode prasejarah juga berkembang pula pola kebudayaan perunggu yang ditandai dengan penemuan situs di Kampung Engkel, Sagalaherang.

Hindu
Pada saat berkembangnya corak kebudayaan Hindu, wilayah Kabupaten Subang menjadi bagian dari 3 kerajaan, yakni Tarumanagara, Galuh, dan Pajajaran. Selama berkuasanya 3 kerajaan tersebut, dari wilayah Kabupaten Subang diperkirakan sudah ada kontak-kontek dengan beberapa kerajaan maritim hingga di luar kawasan Nusantara. Peninggalan berupa pecahan-pecahan keramik asal Cina di Patenggeng (Kalijati) membuktikan bahwa selama abad ke-7 hingga abad ke-15 sudah terjalin kontak perdagangan dengan wilayah yang jauh. Sumber lain menyebutkan bahwa pada masa tersebut, wilayah Subang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda. Kesaksian Tome’ Pires seorang Portugis yang mengadakan perjalanan keliling Nusantara menyebutkan bahwa saat menelusuri pantai utara Jawa, kawasan sebelah timur Sungai Cimanuk hingga Banten adalah wilayah kerajaan Sunda.

Islam
Masa datangnya pengaruh kebudayaan Islam di wilayah Subang tidak terlepas dari peran seorang tokoh ulama, Wangsa Goparana yang berasal dari Talaga, Majalengka. Sekitar tahun 1530, Wangsa Goparana membuka permukiman baru di Sagalaherang dan menyebarkan agama Islam ke berbagai pelosok Subang.

Kolonialisme
Pasca runtuhnya kerajaan Pajajaran, wilayah Subang seperti halnya wilayah lain di P. Jawa, menjadi rebutan berbagai kekuatan. Tercatat kerajaan Banten, Mataram, Sumedanglarang, VOC, Inggris, dan Kerajaan Belanda berupaya menanamkan pengaruh di daerah yang cocok untuk dijadikan kawasan perkebunan serta strategis untuk menjangkau Batavia. Pada saat konflik Mataram-VOC, wilayah Kabupaten Subang, terutama di kawasan utara, dijadikan jalur logistik bagi pasukan Sultan Agung yang akan menyerang Batavia. Saat itulah terjadi percampuran budaya antara Jawa dengan Sunda, karena banyak tentara Sultan Agung yang urung kembali ke Mataram dan menetap di wilayah Subang. Tahun 1771, saat berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sumedanglarang, di Subang, tepatnya di Pagaden, Pamanukan, dan Ciasem tercatat seorang bupati yang memerintah secara turun-temurun. Saat pemerintahan Sir Thomas Stamford Raffles (1811-1816) konsesi penguasaan lahan wilayah Subang diberikan kepada swasta Eropa. Tahun 1812 tercatat sebagai awal kepemilikan lahan oleh tuan-tuan tanah yang selanjutnya membentuk perusahaan perkebunan Pamanoekan en Tjiasemlanden (P & T Lands). Penguasaan lahan yang luas ini bertahan sekalipun kekuasaan sudah beralih ke tangan pemerintah Kerajaan Belanda. Lahan yang dikuasai penguasa perkebunan saat itu mencapai 212.900 ha. dengan hak eigendom. Untuk melaksanakan pemerintahan di daerah ini, pemerintah Belanda membentuk distrik-distrik yang membawahi onderdistrik. Saat itu, wilayah Subang berada di bawah pimpinan seorang kontrilor BB (bienenlandsch bestuur) yang berkedudukan di Subang.

Nasionalisme
Tidak banyak catatan sejarah pergerakan pada awal abad ke-20 di Kabupaten Subang. Namun demikian, Setelah Kongres Sarekat Islam di bandung tahun 1916 di Subang berdiri cabang organisasi Sarekat Islam di Desa Pringkasap (Pabuaran) dan di Sukamandi (Ciasem). Selanjutnya, pada tahun 1928 berdiri Paguyuban Pasundan yang diketuai Darmodiharjo (karyawan kantor pos), dengan sekretarisnya Odeng Jayawisastra (karyawan P & T Lands). Tahun 1930, Odeng Jayawisastra dan rekan-rekannya mengadakan pemogokan di percetakan P & T Lands yang mengakibatkan aktivitas percetakan tersebut lumpuh untuk beberapa saat. Akibatnya Odeng Jayawisastra dipecat sebagai karyawan P & T Lands. Selanjutnya Odeng Jayawisastra dan Tohari mendirikan cabang Partai Nasional Indonesia yang berkedudukan di Subang. Sementara itu, Darmodiharjo tahun 1935 mendirikan cabang Nahdlatul Ulama yang diikuti oleh cabang Parindra dan Partindo di Subang. Saat Gabungan Politik Indonesia (GAPI) di Jakarta menuntut Indonesia berparlemen, di Bioskop Sukamandi digelar rapat akbar GAPI Cabang Subang untuk mengenukakan tuntutan serupa dengan GAPI Pusat.

Jepang
Pendaratan tentara angkatan laut Jepang di pantai Eretan Timur tanggal 1 Maret 1942 berlanjut dengan direbutnya pangkalan udara Kalijati. Direbutnya pangkalan ini menjadi catatan tersendiri bagi sejarah pemerintahan Hindia Belanda, karena tak lama kemudian terjadi kapitulasi dari tentara Hindia Belanda kepada tentara Jepang. Dengan demikian, Hindia Belanda di Nusantara serta merta jatuh ke tangan tentara pendudukan Jepang. Para pejuang pada masa pendudukan Belanda melanjutkan perjuangan melalui gerakan bawah tanah. Pada masa pendudukan Jepang ini Sukandi (guru Landschbouw), R. Kartawiguna, dan Sasmita ditangkap dan dibunuh tentara Jepang.

Merdeka
Proklamasi Kemerdekaan RI di Jakarta berimbas pada didirikannya berbagai badan perjuangan di Subang, antara lain Badan Keamanan Rakyat (BKR), API, Pesindo, Lasykar Uruh, dan lain-lain, banyak di antara anggota badan perjuangan ini yang kemudian menjadi anggota TNI. Saat tentara KNIL kembali menduduki Bandung, para pejuang di Subang menghadapinya melalui dua front, yakni front selatan (Lembang) dan front barat (Gunung Putri dan Bekasi). Tahun 1946, Karesidenan Jakarta berkedudukan di Subang. Pemilihan wilayah ini tentunya didasarkan atas pertimbangan strategi perjuangan. Residen pertama adalah Sewaka yang kemudian menjadi Gubernur Jawa Barat. Kemudian Kusnaeni menggantikannya. Bulan Desember 1946 diangkat Kosasih Purwanegara, tanpa pencabutan Kusnaeni dari jabatannya. Tak lama kemudian diangkat pula Mukmin sebagai wakil residen. Pada masa gerilya selama Agresi Militer Belanda I, residen tak pernah jauh meninggalkan Subang, sesuai dengan garis komando pusat. Bersama para pejuang, saat itu residen bermukim di daerah Songgom, Surian, dan Cimenteng. Tanggal 26 Oktober 1947 Residen Kosasih Purwanagara meninggalkan Subang dan pejabat Residen Mukmin yang meninggalkan Purwakarta tanggal 6 Februari 1948 tidak pernah mengirim berita ke wilayah perjuangannya. Hal ini mendorong diadakannya rapat pada tanggal 5 April 1948 di Cimanggu, Desa Cimenteng. Di bawah pimpinan Karlan, rapat memutuskan : 1.Wakil Residen Mukmin ditunjuk menjadi Residen yang berkedudukan di daerah gerilya Purwakarta. 2.Wilayah Karawang Timur menjadi Kabupaten Karawang Timur dengan bupati pertamanya Danta Gandawikarma. 3.Wilayah Karawang Barat menjadi Kabupaten Karawang Barat dengan bupati pertamanya Syafei. Wilayah Kabupaten Karawang Timur adalah wilayah Kabupaten Subang dan Kabupaten Purwakarta sekarang. Saat itu, kedua wilayah tersebut bernama Kabupaten Purwakarta dengan ibukotanya Subang. Penetapan nama Kabupaten Karawang Timur pada tanggal 5 April 1948 dijadikan momentum untuk kelahiran Kabupaten Subang yang kemudian ditetapkan melalui Keputusan DPRD No. : 01/SK/DPR/1977. bupati subang

coba menguak sejarah subang tercinta



Untuk mengetahui sejarah suatu kota atau suatu daerah, banyak cara yang dapat ditempuh. Yang paling umum adalah melalui buku atau referensi lainnya, bahkan dari cerita orang-orang tua. Namun, untuk mengetahui dinamika masyarakat pada masa lalu ini dapat juga dilakukan melalui keberadan bangunan-bangunan tua. Berbagai bangunan tua bukan hanya mampu menceritakan bagaimana awal kota ini dibangun. Ya…..bangunan-bangunan tua bersejarah ini menjadi saksi bisu bagaimana masyarakat masa lalu menjalankan kehidupannya. Juga dapat diketahui bagaimana dinanika sosial ekonomi yang berlangsung pada masa lalu.
Secara umum, berdasarkan kepentingannya, di Subang ini
ciri arsitektur kolonial dapat dibagi dua.
Bangunan ini beserta isinya menjadi saksi bisu kapitulasi (penyerahan kekuasaan) dari pemerintah Hindia Belanda kepada tentara pendudukan Jepang.
Jika anda berkunjung ke Museum Rumah Sejarah, akan tampak meja, kursi, dan beberapa peralatan lain yang menjadi saksi peristiwa dramatis ini. Di dalam bangunan ini konon hanya sepuluh menit perundingan yang ditutup dua kalimat antara Panglima Tentara Hindia Belanda, Jenderal Ter Poorten dan Laksamana Imamura. Imamura : "Apakah tuan bersedia menyerah tanpa syarat?". Ter Poorten : "Saya menerima untuk seluruh wilayah Hindia Belanda." Sejak itulah (9 Maret 1942) seluruh kekuasaan Hindia Belanda beralih ke tentara pendudukan Jepang.
Kedua, bangunan-bangunan yang didirikan untuk kepentingan bisnis perkebunan. Subang dulu memang dikenal sebagai sentra perkebunan. Konon, pad
a masa kolonial di Subang ini, teh, coklat, tebu, dan karet adalah beberapa komoditas yang dieksploitasi pengusaha swasta asing sektor perkebunan (planters) melalui konsesi hak guna lahan. Pamanoekan en Tjiasem Landen (P&T Lands.) adalah perusahaan yang memiliki konsesi areal lahan yang luasnya hampir meliputi wilayah Subang sekarang. P.W. Hofland adalah tokoh sentral usaha komoditas
perkebunan di kawasan ini.




Subang sebenarnya termasuk salah satu tempat yang
paling beruntung karena masih memiliki salah satu saksi sejarah masa lalunya yang bisa dibaca lewat bangunan-bangunan tua khas perkebunan. Melalui salah satu kekayaan itu, orang bisa menelusuri perjalanan sejarah kota dan masyarakat Subang. Dari bangunan-bangunan khas kolonial ini pula, kita bisa membayangkan bagaimana berkuasanya para planters ini dan betapa besar pula aset yang mereka kelola.
Bangunan-bangunan kolonial khas perkebunan ini lebi
h tersebar, walau sebagian besar berada pada sebuah ”kompleks” di kawasan Subang kota. Gedung Wisma Karya adalah ciri paling khas bagaimana kejayaan Subangplanters masa lalu yang konon pula menjadi pesaing para preangerplanters di Bandung. Bangunan yang diresmikan tahun 1929 ini dulu dipakai sebagai sociteit, tempat para meneer beserta para mevrouw-nya berleha-leha sambil main bola sodok atau nonton toneel.
Bila melihat atap gedung Wisma Karya ini, nampak seperti atap aula ITB (aula barat dan aula timur). Menurut almarhum Ir. Haryoto Kunto dalam bukunya Semerbak Bunga di Bandung Raya (Granesia, Bandung, 1986), gaya bangunan dengan atap mirip tipe bangunan ”julang ngapak” ini tidak sepenuhnya diadopsi dari Negeri Belanda, melainkan kombinasi antara gaya Eropa dengan arsitektur tradisional. Hal ini mempertegas pendapat arsitek legendaris Ir. C.P. Wolff Schoemacher yang bahkan menilai bahwa model bangunan ini selain mengadopsi gaya arsitektur Eropa, juga mengadopsi gaya atap bangunan asli Nusantara yang ia namakan gaya arsitektur Indo-Eropa (Koninklijke Nederlandse Oudheidkundige Bond, Bulletin, Jaargang 104, 2005, nummer 6, p. 227).
Sebagai sebuah ”kompleks” pusat sentra perkebunan, tak jauh dari gedung Wisma Karya ini berdiri megah kantor pusat administrasi perkebunan (kini Hotel Subang Plaza), gudang (atelier), perumahan (the big house, Jl. Ade Irma Suryani, perumahan menuju arah Sidodadi dan kompleks bangunan tua di kawasan Cidongkol). Dan jangan lupa, dulu ”kompleks” ini tambah megah dengan hamparan hijaunya padang golf yang kini menjadi alun-alun.
Bangunan-bangunan antik ini juga menjadi saksi bagaimana para pejuang dulu begitu gigih mempertahankan kemerdekaan. Gedung Wisma Karya, misalnya, konon pada tahun 1945-1947 dijadikan markas pasukan Kratibo (Karawang Timoer-Bandoeng Oetara), pimpinan Letkol Sukanda Bratamanggala dan H. Rusdi. Sementara gedung ”The Big House” yang kini terletak di Jl. Ade Irma Suryani Nasution, kala itu menjadi markas pasukan Hizbullah. Gedung lain yang dijadikan markas badan-badan perjuangan adalah Gedung Gede (depan gedung DPRD, telah hancur), Gedung Jeding, Gedung Cipo, dan Gedung Pasanggrahan.
***
Bangunan-bangunan khas perkebunan di Subang ini antara lain juga ditemui di kawasan perkebunan Ciater dan Tambaksari (selatan), perkebunan karet Wangunreja dan gedong satu (barat) serta Sumurbarang (timur). Beberapa gedung tua ini terpelihara dengan baik, terutama yang letaknya tidak jauh dari permukiman. Bangunan-bangunan di afdeling Kasomalang, Wangunreja dan afdeling Ciater adalah beberapa contoh yang relatif terpelihara. Umumnya, gedung-gedung ini dijadikan rumah dinas kepala afdeling ataupun kantor administrasi kebun.
Namun terdapat pula beberapa bangunan yang kondisinya memprihatinkan. Rumah dinas kepala afdeling kebun Bukanagara, Desa Cupunagara, Cisalak misalnya, kini tampak tak terurus. Berada di atas bukit kecil, gedung tua tak berpenghuni ini tampak kusam, beberapa genting bolong-bolong dan beberapa kusen jendelanya hampir copot. Walau dari jauh tampak menarik sebagai sebuah villa, lengkap dengan cerobong tungkunya, tapi dari dekat lebih mirip rumah hantu. Dengan posisi di atas bukit, gedung ini seolah mengawasi areal kebun teh, perumahan karyawan, dan pabrik pengolahan teh yang berada di bagian yang lebih rendah posisinya. Posisi ini mungkin menggambarkan betapa besarnya kekuasaan kepala afdeling tempo doeloe.
Tak ada catatan mengenai kapan bangunan ini dibangun. Menurut penuturan salah seorang sesepuh Dusun Bukanagara, Ana (78 tahun), konon bangunan tersebut dibuat sekitar tahun 1930-1931. “Cenah ceuk kolot-kolot harita mah, jalan nu ngaliwat ka Bukanagara wae dijieunna kira-kira taun 1919-an (kata orang-orang tua dulu, jalan yang melewati Bukanagara saja dibangunnya sekitar tahun 1919-an-red.)”, katanya. Menurut kakek beberapa cucu ini, dulu bangunan kepala afdeling ini sangat terpelihara. Sekarang? “Nya kitu we” (ya, begitulah-red), ungkapnya. Menurut penuturan orang-orang tua dulu, kata Ana, material untuk membangun rumah dinas kepala afdeling Bukanagara ini diangkut dengan padati alias gerobag yang ditarik kuda dari Subang. Bayangkan!

***
Benda atau bangunan benda cagar budaya sesungguhnya bukan saja harus dilindungi, tetapi juga harus bisa dijamin kelestariannya. Di Subang, diakui atau tidak, keberadaan benda-benda cagar budaya sangat rawan berubah, bahkan rawan tergusur karena intervensi kekuatan komersial maupun karena kurangnya dukungan dana. Sebagai kota yang berkembang pesat, Subang dalam 5-10 tahun ke depan dikhawatirkan bukan saja tampil makin gemerlap dan modern, tetapi juga makin seragam, seolah-olah tidak ada lagi kekhasan dan akar sejarah kota yang tersisa. Pelan namun pasti, jangan-jangan benda cagar budaya yang semestinya dilindungi mulai tergusur, dan kawasan yang seharusnya dipertahankan peruntukkannya sebagai kawasan budaya, itu pun tak lagi steril dari pengaruh kekuatan komersial.
Sejauh mana pemerintah, organisasi sosial dan warga Subang ini peduli pada upaya pelestarian bangunan dan benda cagar budaya yang dimiliki. Untuk menjawab pertanyaan ini harus diakui bukanlah hal yang mudah. Sekalipun disadari bahwa eksistensi bangunan dan benda cagar budaya perlu dilindungi dan dilestarikan, tetapi dalam praktiknya tidak selalu keinginan dan harapan mulia itu paralel dengan kenyataan di lapangan. Akselerasi perkembangan kota yang luar biasa cepat dan dominannya pengaruh kekuatan komersial sering menyebabkan pertimbangan pragmatis menjadi lebih menonjol daripada pertimbangan yang idealis.
Terlepas dari berbagai kekurangan yang ada, upaya pemerintah daerah untuk menginventarisasi dan menetapkan bangunan dan kawasan-kawasan tertentu sebagai benda-benda cagar budaya, bagaimanapun adalah langkah awal yang positif. Cuma masalahnya sekarang, bagaimana menindaklanjuti upaya itu ke upaya perlindungan, pelestarian, dan pengembangannya yang bermanfaat bagi pemerintah kota dan masyarakat. Kalau ini terwujud, pantaslah kita berharap Subang akan menjadi lokasi wisata sejarah, bahkan museum arsitektur. (Sumber : gerbang.jabar.go.id, foto taken from : airologika.multiply.com, deedeecaniago.multiply.com)


Minggu, 01 Maret 2009

SAKADANG PEUCANG KEUNA KE LEUGEUT

Kacaritakeun aya Aki Pangebon. Sapopoena ngan ukur idek liher di kebon bari miara pakaya. Ari anu dipelakna sarupaning bubuahan jeung palawija.
Pakaya Aki Pangebon teu kaur jaradi jeung teu kaur arasak. Sok aya wae nu ngaganggu, ari anu ngagangguna nyaeta Sakadang Peucang.
Aki Pangebon kacida pisan keuheuleunana ka Sakadang Peucang, nepi ka boga niat hayang newak eta sato.
Aki Pangebon boga akal arek ngeupanan Sakadang Peucang ku leugeut teureup. Tuluy Aki Pangebon teh nyieun bebegig. Eta bebegig teh make leugeut teureup tea, sarta tuluy dipasang di tengah-tengah kebon.
Kabeneran Sakadang Peucang geus lapareun. Sakadang Peucang ngajugjug kebon anu dipasangan bebegig tea.
Barang nempo bebegig, Sakadang Peucang ngadeukeutan, sarta tuluy nanya. Sababaraha kali Sakadang Peucang nanya, tapi weleh eta bebegig teu daekeun ngajawab. Atuh Sakadang Peucang teh ambeukeun pisan.
Sakadang Peucang ngambek, sarta eta bebegig teh ditejeh tuluy ditubruk. Atuh puguh wae Sakadang Peucang teh teu bisaeun walakaya, sabab awakna rapet kana bebegig nu geus meunang moles ku leugeut teureup tea.

harorem teh kieu yeuh,foto we hungkul



SASAKALA UNCAL TANDUKAN



Jaman baheula, kuda teh bogaeun tanduk, mani ranggaek. Gagah pisan katenjona teh. Komo deui awakna aya nu jangkung nya lempay. Buluna herang gugurilapan.
Sakadang kuda teu weleh agul, dumeh ngarasa panghadena rupa. Gawena ngan lajag lejeg, hayangeun ditaksir. Sok atoheun kacida lamun dipuji teh. Manehna teu nyahoeun, sakapeung nu muji teh ukur pangoloan.
“Euweuh deui anu gagah di ieu leuweung, kajaba anjeun,”ceuk sakadang uncal.
Sakadang kuda leumpangna beuki dangah agul pisan pedah dialem ku sakadang Uncal.
“Gagah mana kuring jeung sakadang Banteng?” kuda nanya.
“Nya atuh gagah keneh anjeun. Sakadang Banteng mah awakna oge henteu matut. Jaba deuih tandukna henteu ranggaek,”tembal Uncal.”Kuring oge hayang boga tanduk kawas anjeun.Meureun bakal jadi gagah.”
“Is, atuh tangtu wae bakal gagah mah,” ceuk Sakadang Kuda.
“Cik atuh kuring nginjeum tanduk sakeudeung,” ceuk Sakadang Uncal.
“Is, ulah,” Sakadang Kuda gancang nempas.
“Sakeudeung we atuh, hayang ngajaran. Piraku pantar anjeun anu sakitu gagahna make koret. Sakadang Banteng oge kungsi nginjeumkeun tanduk ka kuring,” uncal ngabohong, sabab hayang dibere nginjeum tanduk.
Sakadang Kuda ngahuleng sakeudeung, manehna ngarasa era dumeh diseut koret. Komo deui make dibanding-banding jeung Sakadang Banteng.
“Tapi tong lila, nya?” ceuk Sakadang Kuda sanggeus ngahuleng heula.
“Moal atuh,” tembal Sakadang Uncal.
Gancang eta tanduk diinjeumkeun. Rap dipake enya we Sakadang Uncal gagah.
Leos Sakadang Uncal indit, Sakadang Kuda nungguan.
Pleng les, Sakadang Uncal teu datang deui, Tug nepi ka kiwari eta tanduk teh teu dipulangkeun deui. Matak ayeuna kuda teu bogaeun tanduk. Ari uncal tandukna sakitu alusna.

Sabtu, 17 Januari 2009

menjajal akselerasi baru dari RPM



JANGAN pernah mau di kalahkan oleh waktu,biar waktu takan pernah merasa bosan manyaksikan perjuangan seseorang,, kuasai diri , tanamkan sikaf disiplin dan jangan pernah mau menyerah,
jangan pernah puas akan prestasi yang pernah di raih,melainkan jadikan semua itu semangat untuk memicu menghadapi menuju tantangan yang dengan level yang lebih tinggi.
jangan pernah merasa sanggup untuk menaklukan dunia,jikalau kita sendiri belum merasa mampu untuk menaklukan emosi diri kita sendiri.
sikaf percaya diri,penuh rasa sabar,menghargai orang lain,dan tanamkan keikhlasan hati juga kebijaksanaan, kuncinya