Minggu, 13 September 2009

DAWUAN KIDUL JUARA PASANGGIRI TUTUNGGULAN

Dalam rangka lomba pasanggiri tutunggulan ke-2 Bupati Cup se-Kabupaten Subang yang dilaksanakan di Dusun Cinangling Desa Cisampih Kecamatan Dawuan, sebanyak 29 kelompok yang terdiri dari 6 wilayah kecamatan yang ada di Kabupaten Subang telah resmi dibuka oleh Wakil Bupati Subang Ojang Sohandi, S.STP, M.Si dengan didampinggi oleh Bupati Subang Eep Hidayat, M.Si dan Asda I Drs. H. Aseng Junaedi, M.Si. serta dihadiri oleh para unsur muspida dan para camat yang ada di Kabupaten Subang (1/7).

Dalam sambutannya Wakil Bupati Subang memaparkan program Kabupaten Subang yang berbasiskan Gotong Royong. Khususnya di Desa Cisampih, menurut Wakil Bupati, praktek Gotong Royong telah berjalan secara spontan dengan didukung penuh oleh Pemerintah Kabupaten Subang diantaranya melalui seni dan budaya. Dengan diadakannya Lomba atau pasanggiri tutunggulan ini semoga menjadi salah satu perwujudan kepedulian masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Subang akan budaya nenek moyang yang harus selalu dilestarikan sehingga kedepannya Kabupaten Subang menjadi salah satu daerah tujuan wisata budaya sehingga bisa menambah devisa pendapatan daerah Kabupaten Subang.


Tim Tutunggulan Dawuan Kidul

Dalam sambutannya Wakil Bupati juga merasa bangga atas terselenggaranya pasanggiri ini, karena akan membina masyarakat untuk mencintai budaya dan tergugah untuk melestarikannya kembali, contohnya seni budaya tutunggulan ini yang hanya menggunakan lisung dan halu untuk menumbuk padi sehingga menghasilkan irama yang harmonis. Wakil Bupati juga berterima kasih kepada para sesepuh yang telah setia melestarikan seni tutunggulan ini dengan menurunkan bakatnya kepada generasi muda.

Dalam lomba pasanggiri tutunggulan ini, peserta tidak hanya memainkan lisung dan halu saja, akan tetapi bisa membawa alat tradisional tambahan sebagai pelengkap diantaranya jubleg, dulang, kuhkuran atau alat pengeruk kelapa, gentong, kendi dan etem. Jenis penjurian yang dinilai para juri pasanggiri tutunggulan ini diantaranya kekompakan personil, keselarasan dan keserasian nada atau irama serta kreatifitas. Keluar menjadi pemenang dalam pasanggiri tersebut adalah tim tutunggulan dari dusun Dawuan I desa Dawuan Kidul. (www.subang.go.id)

ONCOM DAWUAN

Desa Dawuan, Kecamatan Dawuan mungkin selintas hanya desa biasa di pinggir jalan raya Subang-Jakarta. Tapi, bagi penggemar kuliner lokal, desa ini sejak dulu terkenal dengan oncomnya. Ke desa ini, tak sedikit orang dari Subang kota, Pamanukan, Pabuaran, dan kecamatan-kecamatan lain di Subang sengaja datang hanya untuk membeli oncom yang konon rasanya sangat khas. Bahkan, tak sedikit warga Bandung, Jakarta dan beberapa kota di Jawa Tengah yang menyempatkan diri membeli oncom Dawuan ini sebagai oleh-oleh khas Subang. Doni (35 tahun), misalnya, sengaja datang dari Subang kota untuk membeli oncom Dawuan untuk dikirim ke kerabatnya di Pontianak, Kalbar. Rasa oncom Dawuan ini beda dengan oncom buatan tempat lain, sehingga pantas dijadikan oleh-olehâ, katanya.

Tak hanya itu, oncom Dawuan juga tersebar ke pasar-pasar di Subang. Di Pasar Kalijati misalnya, oncom buatan Dawuan sudah cukup mendarah daging sebagai komoditas perdagangan paling dicari setelah sembako. Di Pasar Baru, Subang, jenis oncom Dawuan ini juga merupakan komoditas yang paling dicari. Bahkan, konon masih banyak pembeli fanatik di Pasar Baru ini yang sengaja mencari oncom Dawuan.

Di Dawuan oncom pertama kali dirintis sekitar tahun 1960-an. Kemungkinan, sejak dulu produksi kacang tanah di desa ini cukup melimpah. Menurut Ketua Kelompok Usaha Kejar Usaha Oncom, Harun (55 tahun), kemudahan bahan dasar kacang tanah ini menjadi daya tarik warga Dawuan untuk mengembangkan usaha keluarga selain pertanian padi. Bapak empat orang anak ini mengaku menggeluti usaha produksi oncom ini sejak tahun 1969, tatkala masih berusia 17 tahun. Kini, Harun yang hanya lulus SD ini konsisten mengelola unit pembuatan oncom berskala rumah tangga.

Banyak suka dukanya menjadi pembuat oncom dawuan ini, kang, katanya. Ia mengenang masa jaya-jayanya oncom Dawuan sekitar sepuluh tahun lalu. Saking terkenalnya oncom Dawuan, kata suami Ny. Uminah ini, oncom Dawuan pernah dipamerkan dalam sebuah event di lokasi wisata air panas Ciater. Menjadi kebanggaan saat itu, karena banyak orang bertanya tentang oncom Dawuan selain tentunya membeli dengan jumlah banyak, kenangnya.

Pembuatan
Memproduksi oncom Dawuan sebenarnya tidak terlalu sulit. Jenis oncom yang dibuat warga Dawuan ini terdiri atas oncom suuk (kacang) atau lazim disebut oncom asli dan oncom dadut dengan bahan campuran kacang dan ampas tahu. Proses pembuatannya rata-rata dua hari dengan bantuan ragi dan pengolahan sederhana melalui kompor minyak tanah. Bambu juga digunakan sebagai bahan sasag atau dasar/alas tempat meletakkan oncom, sedangkan minyak tanah untuk proses penanakannya.
Untuk pengadaan bahan baku, para produsen oncom dawuan ini mengandalkan Pasar Inpres untuk kacang tanah dan Kopti untuk ampas tahu. Rata-rata untuk satu produsen perhari dibutuhkan bahan baku sebanyak 5 kwintal, dengan harga kacang tanah rata-rata Rp 10.000/kg. Untuk membuat oncom yang rasanya enak, harus dibuat dari kacang tanah yang berkualitas. Untuk membuat oncom yang rasanya enak harus dibuat dari kacang tanah yang berkualitas tinggi. Tidak boleh bercampur dengan kacang tanah yang sudah berhama atau buruk karena akan memengaruhi rasa dan aroma oncom.
Kacang tanah yang berkualitas juga mengandung kadar minyak yang cukup tinggi.

Biasanya dari 100 kg kacang tanah bisa menghasilkan minyak kacang sebesar 20 kg. Kacang tanah yang telah dibersihkan dimasukkan ke kampa, sejenis mesin penggilingan kacang tanah. Setelah itu, wujudnya menjadi bungkil mentah. Bungkil mentah tersebut lalu dicetak. Kadar minyaknya dipisahkan dan menjadi bungkil. Bungkil ini selanjutnya direndam dengan air yang sudah dimasak. Setelah 7 jam proses perendaman, bungkil yang sudah berubah jadi serbuk oncom tersebut dimasukkan ke dalam carangka.

Serbuk oncom itu pada sekira pukul 1.00 dini hari diseupan alias dikukus hingga masak, setelah itu dicetak berbentuk empat persegi panjang. Selama 12 jam potongan-potongan oncom tersebut ditutup atau diselimuti dengan karung setelah sebelumnya ditaburi ragi oncom secukupnya agar nantinya timbul jamur-jamur oncom. Setelah berjamur, potongan-potongan oncom diberi sasag yang terbuat dari bambu. Baru selanjutnya oncom siap dipasarkan. Menurut para produsen oncom dawuan, permasalahan yang dihadapi dalam proses produksi ini adalah hasil fermentasi yang tidak stabil, sehingga memungkinkan oncom membusuk.

Makin Menurun
Kini, pamor oncom Dawuan dirasakan Harun dan rekan-rekannya sesama produsen oncom dirasakan menurun. Penurunan ini ditandai dengan makin sedikitnya pembeli dibanding 5 atau 10 tahun lalu, kata beberapa anggota Kelompok Usaha Kejar Usaha Oncom. Ketika ditanya penyebabnya, mereka umumnya tak mengetahui secara pasti. Namun, Harun mensinyalir adanya perubahan selera makan masyarakat yang cenderung beralih ke menu orang kota. Disisi lain, katanya, kemungkinan penyebab lain adalah berkurangnya arus kendaraan yang melewati ruas jalan Subang-Kalijati-Jakarta. Mungkin, orang-orang dari arah barat (Jakarta-red) menuju Bandung kini lebih suka menggunakan jalan tol, ungkapnya. Saat ini untuk memasarkan produknya, mereka juga membuat outlet sederhana di rumah untuk melayani pembeli yang datang, selain menjualnya langsung ke pasar-pasar.

Alasan ini juga diakui beberapa produsen oncom yang masing-masing tinggal tak berjauhan. Mungkin juga kurang promosi kata mereka. Promosi ini menjadi kendala tersendiri bagi mereka. Maklum, kemampuan para pembuat oncom ini baru terbatas pada aspek produksi saja, belum ke aspek perluasan pasar. Meredupnya pamor oncom Dawuan ini tak pelak mengembalikan pola ekonomi rakyat setempat kebentuk pertanian lagi dari sektor industri kecil. Kini, untuk membiayai kebutuhan sehari-hari, kami menggarap sawah yang tidak begitu luas, kata Harun. Hal ini dilakukan karena ia masih berkewajiban membiayai sekolah dua dari empat anaknya.

Dengan bahan baku 5 kuintal, kata Harun, ia meraup keuntungan kotor Rp 75 ribu per hari. Penghasilan bersih tentunya lebih kecil, karena harus dikurangi biaya untuk modal, keluhnya. Penghasilan ini didapat dari penjualan sekitar 5 ancak dari 10 ancak yang diproduksi perhari. Tarip per ancak oncom Dawuan ini tergantung dari jenisnya. Untuk oncom suuk/kacang harganya Rp 50 ribu per ancak atau Rp 500 per potong. Untuk 1 ancak, bisa menjadi sekitar 1.000 potong, kata Harun. Lain halnya dengan oncom dadut, harganya jauh lebih murah. Dengan uang Rp 20 ribu, pembeli dapat memperoleh satu ancak oncom dadut. Murahnya harga oncom dadut ini dikarenakan bahan bakunya campuran antara kacang tanah dan ampas tahu. Sementara oncom asli bahannya melulu kacang tanah.

Selama ini, Harun dibantu anggota keluarganya untuk memproduksi oncom. Pola pemanfaatan tenaga kerja keluarga ini juga diterapkan para produsen lain. Langkah ini mengurangi biaya tenaga kerja yang saat ini tak mungkin terbayar, kata rekan-rekan harun. Untuk permodalan, selama ini ia beserta kelompok usahanya menjalin kerjasama dengan pihak BRI unit. Mengenai berbagai kendala ini, Harun dan rekan-rekannya berharap adanya ketulusan pihak terkait untuk lebih memperhatikan para produsen oncom yang belum terfasilitasi, baik dari segi pemasaran maupun permodalan.. Harapan kami, dimasa depan produksi oncom meningkat dan dikembangkan dengan memproduksi gorengan oncom, kata mereka.(www.oncom.dagdigdug.com)

kampung jati mas

Bagi sebagian penduduk kota besar seperti Jakarta, menikmati sejuknya hembusan angin pegunungan berteman dengan merdunya nyanyian burung-burung penghuni rimbunnya pepohonan dapat menjadi pelipur penat lepas bertarung di atas tumpukan beton pencakar langit. Dada yang sesak akibat asap kendaraan serta gendang telinga yang bising oleh raungan knalpot terpaksa memang harus diresapi demi mengejar sebuah penghidupan yang sempurna.
Well, ketimbang stress lantaran memikirkan pekerjaan yang tidak ada habisnya, lebih baik Anda segera mengarahkan mobil kesayangan menuju daerah Subang, Jawa Barat. Yah, hitung-hitung pelesir bersama keluarga tercinta yang mungkin sudah mulai jarang Anda lakukan.
Thanks for the great innovation called jalan tol, perjalanan menuju sebuah resort yang mengedepankan pesona agrowisata berjuluk Kampoeng Jati Mas menjadi lebih mudah dan cepat. Untuk mencapai kawasan wisata yang terletak di Desa Kampung Pasir Bilik, Kecamatan Jalancagak tersebut hanya membutuhkan waktu kurang lebih 2,5 jam. Namun saya jamin perjalanan tersebut tidak bakal terasa melelahkan . Karena kita dihibur oleh indahnya pemandangan sawah menghijau yang terhampar di pinggir jalan berkelok dan menanjak.
Di lokasi seluas 22 hektar yang berada di atas sebuah bukit ini, mata kita seolah disihir oleh panorama Gunung Cangak, Tangkuban Perahu, Tampomas dan Gunung Burangrang. Untuk mencairkan kembali kepala yang sesak dengan rutinitas, Anda dapat mencoba spa and theraphy. Toh tidak ada salahnya kan kalau kita sekali-kali memberi perlakuan istimewa terhadap tubuh kita sendiri. Lagipula selagi Anda memanjakan badan, istri tercinta dapat memilih berbagai jenis tanaman anggrek, afhordia, kamboja Jepang, hingga bibit 5.500 pohon jati mas yang tertata apik di dalam tujuh unit green house seluas 30 x 15 meter persegi tersebut. Istri Anda pun dapat sekalian memanen buah strawberry segar langsung dari pohonnya.


Lalu apa kegiatan yang cocok untuk buah hati Anda? Jangan khawatir, mereka juga bisa menikmati sensasi bertualang di alam bebas di atas unit ATV (All Terrain Vehicle), menunggang kuda, atau bahkan bersenda gurau di wahana flying fox, spider web, dan wall climbing yang diasuh oleh petugas-petugas berpengalaman.
Lelah beraktifitas seharian? Maka kini saatnya Anda menjajal penganan khas tanah Sunda hasil olah ide chef – chef profesional Kampoeng Jati Mas. Misalkan saja nasi kelemeng. Jenis nasi yang kerap disebut nasi liwet ini dimasak di dalam buah kelapa yang digarang di atas tungku, maka di café Balik Deui nasi yang telah diberi larutan santan dan potongan daun serai tersebut dimasak di dalam kastrol atau wadah besi. Selanjutnya, hidangan dilengkapi dengan topping ikan asin jambal roti serta petai yang kian mantap menjadi selingan lauk tahu, tempe, dan ayam goreng sambal dadak. Segelas ramuan Si Jambrong alias campuran jus strawberry dan nenas bisa menjadi penutup yang menyegarkan.
Wuihh, mantap kan? Mendengarnya saja, saya serasa ingin meneteskan air liur. Tapi tahan dulu! Setidaknya sampai Anda merasakan steak andalan café hasil olah keempukan irisan daging sirloin dan tenderloin yang dipanggang di atas bara api. Selaras dengan tema nusantara yang dianut oleh lokasi berkonsep one stop resort ini, maka western food tersebut dipadukan dengan cita rasa Sunda yang cukup kental. Jadi jangan heran jika Anda disajikan pilihan saus balado, rendang atau semur hingga side dishes berupa cassava (singkong) dan karedok sebagai pengganti kentang dan selada. Cukup unik kan? Sebagai hidangan penutup, Anda harus mencoba perpaduan antara cita rasa gurih dan manis cita rasa Sampey Edan.Makanan ini terbuat dari potongan singkong lembut yang disiram oleh lapisan fla yang terbuat dari tepung beras dan pandan dicampur strawberry. Hmmm…yummy…


Ingin merasakan segarnya udara pagi khas pegunungan sembari mendengarkan celoteh burung-burung liar yang hinggap di dahan jati? Just check-in the bungalows. Untuk sementara ini tempat-tempat peristirahatan yang tersedia menggunakan konsep Rumah Palembang. Sedangkan beberapa bungalow dengan konsep nusantara lainnya masih dalam tahap pengembangan. Guna dapat menikmati semua fasilitas yang ada di Kampoeng Jati Mas, para tamu cukup merogoh kocek antara Rp. 1.250.000 hingga Rp. 2.000.000. Namun rasa-rasanya harga tersebut masih belum mampu menebus indahnya suasana pedesaan yang akan Anda dapatkan. Such a heavenly paradise…
(Penulis:Dipo Ario /www.asco.co.id)

Kampoeng Jati Mas
Desa Kampung Pasir Bilik
Kecamatan Jalan Cagak
Subang, Jawa Barat
phone . +62260 470620 or +628886072548
fax. +62260 470620

kampung jati mas

Bagi sebagian penduduk kota besar seperti Jakarta, menikmati sejuknya hembusan angin pegunungan berteman dengan merdunya nyanyian burung-burung penghuni rimbunnya pepohonan dapat menjadi pelipur penat lepas bertarung di atas tumpukan beton pencakar langit. Dada yang sesak akibat asap kendaraan serta gendang telinga yang bising oleh raungan knalpot terpaksa memang harus diresapi demi mengejar sebuah penghidupan yang sempurna.
Well, ketimbang stress lantaran memikirkan pekerjaan yang tidak ada habisnya, lebih baik Anda segera mengarahkan mobil kesayangan menuju daerah Subang, Jawa Barat. Yah, hitung-hitung pelesir bersama keluarga tercinta yang mungkin sudah mulai jarang Anda lakukan.
Thanks for the great innovation called jalan tol, perjalanan menuju sebuah resort yang mengedepankan pesona agrowisata berjuluk Kampoeng Jati Mas menjadi lebih mudah dan cepat. Untuk mencapai kawasan wisata yang terletak di Desa Kampung Pasir Bilik, Kecamatan Jalancagak tersebut hanya membutuhkan waktu kurang lebih 2,5 jam. Namun saya jamin perjalanan tersebut tidak bakal terasa melelahkan . Karena kita dihibur oleh indahnya pemandangan sawah menghijau yang terhampar di pinggir jalan berkelok dan menanjak.
Di lokasi seluas 22 hektar yang berada di atas sebuah bukit ini, mata kita seolah disihir oleh panorama Gunung Cangak, Tangkuban Perahu, Tampomas dan Gunung Burangrang. Untuk mencairkan kembali kepala yang sesak dengan rutinitas, Anda dapat mencoba spa and theraphy. Toh tidak ada salahnya kan kalau kita sekali-kali memberi perlakuan istimewa terhadap tubuh kita sendiri. Lagipula selagi Anda memanjakan badan, istri tercinta dapat memilih berbagai jenis tanaman anggrek, afhordia, kamboja Jepang, hingga bibit 5.500 pohon jati mas yang tertata apik di dalam tujuh unit green house seluas 30 x 15 meter persegi tersebut. Istri Anda pun dapat sekalian memanen buah strawberry segar langsung dari pohonnya.


Lalu apa kegiatan yang cocok untuk buah hati Anda? Jangan khawatir, mereka juga bisa menikmati sensasi bertualang di alam bebas di atas unit ATV (All Terrain Vehicle), menunggang kuda, atau bahkan bersenda gurau di wahana flying fox, spider web, dan wall climbing yang diasuh oleh petugas-petugas berpengalaman.
Lelah beraktifitas seharian? Maka kini saatnya Anda menjajal penganan khas tanah Sunda hasil olah ide chef – chef profesional Kampoeng Jati Mas. Misalkan saja nasi kelemeng. Jenis nasi yang kerap disebut nasi liwet ini dimasak di dalam buah kelapa yang digarang di atas tungku, maka di café Balik Deui nasi yang telah diberi larutan santan dan potongan daun serai tersebut dimasak di dalam kastrol atau wadah besi. Selanjutnya, hidangan dilengkapi dengan topping ikan asin jambal roti serta petai yang kian mantap menjadi selingan lauk tahu, tempe, dan ayam goreng sambal dadak. Segelas ramuan Si Jambrong alias campuran jus strawberry dan nenas bisa menjadi penutup yang menyegarkan.
Wuihh, mantap kan? Mendengarnya saja, saya serasa ingin meneteskan air liur. Tapi tahan dulu! Setidaknya sampai Anda merasakan steak andalan café hasil olah keempukan irisan daging sirloin dan tenderloin yang dipanggang di atas bara api. Selaras dengan tema nusantara yang dianut oleh lokasi berkonsep one stop resort ini, maka western food tersebut dipadukan dengan cita rasa Sunda yang cukup kental. Jadi jangan heran jika Anda disajikan pilihan saus balado, rendang atau semur hingga side dishes berupa cassava (singkong) dan karedok sebagai pengganti kentang dan selada. Cukup unik kan? Sebagai hidangan penutup, Anda harus mencoba perpaduan antara cita rasa gurih dan manis cita rasa Sampey Edan.Makanan ini terbuat dari potongan singkong lembut yang disiram oleh lapisan fla yang terbuat dari tepung beras dan pandan dicampur strawberry. Hmmm…yummy…


Ingin merasakan segarnya udara pagi khas pegunungan sembari mendengarkan celoteh burung-burung liar yang hinggap di dahan jati? Just check-in the bungalows. Untuk sementara ini tempat-tempat peristirahatan yang tersedia menggunakan konsep Rumah Palembang. Sedangkan beberapa bungalow dengan konsep nusantara lainnya masih dalam tahap pengembangan. Guna dapat menikmati semua fasilitas yang ada di Kampoeng Jati Mas, para tamu cukup merogoh kocek antara Rp. 1.250.000 hingga Rp. 2.000.000. Namun rasa-rasanya harga tersebut masih belum mampu menebus indahnya suasana pedesaan yang akan Anda dapatkan. Such a heavenly paradise…
(Penulis:Dipo Ario /www.asco.co.id)

Kampoeng Jati Mas
Desa Kampung Pasir Bilik
Kecamatan Jalan Cagak
Subang, Jawa Barat
phone . +62260 470620 or +628886072548
fax. +62260 470620

SEJARAH PERKEBUNAN DI SUBANG JAWA BARAT

A. Sejarah Singkat PT Perkebunan Nusantara VIII
Didalam menguraikan pasal ini berhubung Perkebunan yang pengelolaannya selalu berganti - ganti, maka untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai sejarah Pekebunan ini, maka membagi waktu perjalanan rodasejarah perkebunan ini dalam tiga periode, yaitu :

1. Periode Jaman Pemerintahan Belanda
2. Periode Jaman Pemerintaha jepang
3. Periode Jaman Kemerdekaan, yang terbagi pula menjadi luma tingkat, yaitu :
a. Tingkat pengusahaan oleh pemerintah daerah jawa barat.
b. Tingkat pengusahaan sementara.
c. Tingkat pengusahaan penuh.
d. Tingkat kembali ketangan pemerintah RI.

1. Periode Jaman Pemerintah Belanda

Pada tahun 1812 dua orang bernama Mutinghe dan Sharpnell memberi dua bidang tanah yang sangat luas, ialah tanah Pemanukan dan tanah Ciasem dari Pemerintah.
Kemudian tanah tersebut didaftarkan dengan nama “ PAMANUKAN EN TJIASEM LANDEN “ ( P en T Landen ).

Tanah-tanah tersebut merupakan satu bidang tanah yang luasnya 212.900 hektar, dengan hak Eigendom, dengan batas-batasnya sebagai berikut :
a. Utara : Laut Jawa.
b. Timur : Sungai Cipunagara dan sebagian keresidenan Cirebon.
c. Selatan : Tanah-tanah terbentang sampai pegunungan.
d. Barat : Keresidenan Priangan dan sungai Cilamaya.

Tanah-tanah tersebut pada waktu itu tidak banyak hasilnya. Hanya terdiri dari pada beras, kelapa dan kopi, sedangkan yang ditanam oleh Rakyat atau Penduduk yaitu gula dan arak yang dibuat secara sedehana sekali.

Sepeninggal Tuan Sharpnell pada tahun 1930, diangkat seorang Manager atau Penguasa yang selain ditugaskan untuk mengusahakan tanah-tanah itu, juga diberi tugas Khusus/terpenting, yaitu “Penghematan Keras Dalam Pengeluaran Uang“

Pada tahun 1840 tanah-tanah tersebut dari bangsa Inggris dijual kepada dua orang bersaudara dari negri Belanda, yaitu Hofland bersaudara dengan susah payah maka diputuskanlah untuk merubah tanah-tanah itu dijadikan N.V.

Hal ini dilakukan oleh karena Hofland bersaudara membutuhkan modal tambahan mengusahakan tanah-tanah itu.

Perlu dijelaskan disini bahwa oleh karena tanah-tanah itu belum seluruhnya ditanami oleh tanaman perkebunan, maka sampai saat ini belum dapat disebut Perusahaan Perkebunan.

Dengan demikian maka pada tahun 1886 didirikanlah N.V. Haatschapij Ter Eksploitatie Der Pamanukan En Tjiasem Landen.

Dari tahun 1886 hingga tahun 1911 sebagian besar dari saham-saham berada ditangan Landbow Maatschapij ( N.I. Hand Elsbank ).

Kemudian saham-saham tersebut dalam tahun 1911 dibeli oleh “ The Anglo Dutch Plantation Of Java Ltd.” Di London, oleh karena itu maka tanah-tanah P & T Landen tersebut berada kembali pada tangan bangsa Inggris. Perlu juga diterangkan disini bahwa pada tahun 1953 nama N.V. Maatschapij der Exloitate Der Pamanukan En Tjiasem Landen, telah dirubah menjadi :
“P & T LANDS PT” dan nama “THE ANGLO DUTCH” juga dirubah menjadi “THE ANGLO INDONESIAN PLANTATION LTD”.

Pada waktu tanah-tanah itu kembali ketangan bangsa Inggris, maka luasnya masih tetap seperti pada permulaan yaitu seluas 212.900 hektar.

Daerah seluas ini merupakan tanah pertikulir terbesar di Pulau Jawa pada masa itu. Pada waktu itu P&T Lands berkantor pusat di kota Subang, dengan membawahi 22 Perkebunan yang terdiri dari 13 Perkebunan Karet, 9 Buah Perkebunan Teh dan ditambah dengan sebuah Pusat Perbengkelan, satu buah Pusat Pergudangan, (Gudang Hasil dan Gudang Supply), serta sebuah Rumah Sakit yang terletak di kota Subang.


2. Periode jaman Pemerintahan Jepang

Pada tahun 1942 mendaratlah tentara Jepang di Pulau Jawa. Maka perkebunan-perkebunan di Indonesiapun jatuh pula ketangan Pemerintahan Jepang.

Pada masa pendudukan Jepang dan tahun-tahun revolusi selanjutnya membawa perubahan penting bagi keadaan PerusahaanPerkebunan kepunyaan P&T Lands, kerugian yang diderita sangatlah menyedihkan. Dan tenyata dari 22 buah Perkebunan itu, tidak kurang dari 10 buah perkebunan dengan luasnya 9.200 hektar sebagian besar telah hancur sehingga tidak mungkin diusahakan lagi. Dua buah Perkebunan dikembalikan lagi kepada Pemerintah, enam buah Perkebunan lainnya telah dijual.
Keadaan di lingkungan Subang tidak lebih baik dari Perkebunan Sisal “Sukamandi” 90% telah dibongkar dan hanya beberapa ratus hektar saja yang masih terdapat tanaman Sisal yang tidak menghsilkan lagi.

Perusahaan padi “Sukamandi” yang besar dan didirikan antara tahun 1930 dan tahun 1940 dengan ongkos yang mahal telah terhenti. Sebanyak 8.000 hektar sawah yang dapat diairi telah di pakai dan ditempati oleh penduduk setempat secara tidak syah. Sekalipun rintangan-rintangan yang berat ini, hak milik atas tanah tidak terganggu oleh karenanya.

Tanah Eigendom memang dipakai dan ditempati oleh penduduk setempat secara tidak syah, tetapi bagaimanapun masih tetap dapat dan mungkin dikembalikan untuk dipergunakan. Akan tetapi tahun 1949 pemerintah Republik Indonesia telah menyatakan keinginannya untuk membeli kembali semua tanah yang tidak langsung dibutuhkan oleh P&T Lands, guna kepentingan rakyat atau penduduk. Sebaliknya demikian Pula, Pemerintah Republik Indonesia ingin mengembalikan beberapa ribu hektar Hutan Hydrologis menjadi tanah Pemerintah. Maka dengan demikian telah di jual kepada Pemerintah seluas 22.100 hektar tanah yang meliputi seluruh Perusahaan Padi Sukanagara dan beberapa ribu hektar tanah-tanah persedian dan hutan-hutan Hydrologis, sedangkan P&T Lands diperkenankan memiliki 45.600 hektar tanah Eigendom dan 750 hektar tanah-tanah Erfpacht.

3. Periode Jaman Kemerdekaan

Dalam rangka Konfrontasi antara negara Indonesia dengan Malaysia, oleh karena negara Malaysia dianggapnya menjadi proyek Neo Kolonialisme dan Imprialisme Inggris, maka perusahaan-perusahaan perkebunan milik inggris yang berada di Pulau Jawa, termasuk P&T Lads mengalami tiga fase perubahan, yaitu :

a. Tingkat pengawasan oleh pemerintah Jawa Barat
Dimulai sejak bulan September 1963, yang berlandaskan kepada Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat nomor : 376/BI/Pem/Sek/1963 tertanggal 19 September 1963 yang menentukan bahwa semua Perusahaan milik Inggris yang berada dalam wilayah Jawa Barat, diawasi sepenuhnya oleh Pemerintah Daerah Jawa barat.

b. Tingkat Pengawasan Sementara
Dimulai sejak bulan Pebruari 1964, yang berdasarkan kepada Surat Keputusan Mentri Pertanian / Agraria nomor : 31/MPA/1964, yang menentukan bahwa semua perusahaan milik Inggris yang berada dalam wilayah Republik Indonesia, diawasi sementara oleh Pemerintah Pusat.

c. Tingkat Penguasaan Penuh
Menurut Penetapan Presiden Republik Indonesia nomor : 6/1964, yang dikeluarkan dan di undangkan pada tanggal 26 Nopember 1964, maka semua perusahaan-perusahaan milik Inggris yang ada dalam wilayah nergara Republik Indonesia, dikuasai sepenuhnya secara langsung serta diurus oleh Pemerintah Pusat.

Terhitung mulai tanggal dikeluarkannya Surat Edaran Perdana Mentri III nomor D/VII/0452/H-5/1964, tertanggal 31 Januari 1964. Penetapan Presiden tersebut selanjutnya menentukan bahwa pengurusan semua perusahaan milik Inggris yang mengusahakan sendiri dan atau menguasai usaha-usaha dalam bidang perkebunan dilakukan oleh Departemen Perkebunan.

Dengan demikian sebagai pelaksana penetapan Presiden tersebut dalam bulan desember 1964, Mentri Koordinator Kompartemen Pertanian dan Agraria telah menyerahkan perusahaan-perusahaan Perkebunan Dwikora kepada Mentri Perkebunan. Adapun yang dimaksud dengan perusahaan-perusahaan Dwikora adalah perusahaan-perusahaan Perkebunan bekas milik Inggris, yang dijadikan tujuh kelompok kesatuan, yang menginduk kepada sebuah BPU (Badan Pimpinan Umum) yang berkedudukan di Jakarta.

d. Tingkat Joint Venture
Join Venture adalah suatu bentuk kerjasama antara modal asing dengan modal nasional.

Bentuk usaha bersama ini didasarkan kepada undang-undang nomor : 1/1967, tentang Penanaman Modal Asing.
Penanaman Modal Asing menurut undang-undang ini dapat dilakukan dalam bentuk perusahaan yang dari semula modalnya 100% dari modal asing dan modal nasional. Maka sejak tanggal 1 Januari 1970 secara Administratif telah dinyatakan bahwa perusahaan-perusahaan ini telah mengambil bentuk Joint Venture antara pemerintah Republik Indonesia dengan pengusaha-pengusaha Inggris,dengan perbandingan modal masing-masing sebasar 30% dan 70%.

e. Tingkat kembali ketangan pemerintah Republik Indonesia
Berdasarkan Keputusan Pemerintah Pusat untuk membeli saham yang dimiliki oleh Inggris, maka status Perusahaan Perkebunan Negara Kesatuan IV adalah 100% menjadi milik bangsa Indonesia. Hal ini didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan serta faktor-faktor lainnya.

Dengan melihat kepada perjalanan sejarah Perkebunan tersebut di atas, maka kita dapat ketahui bahwa perusahaan perkebunan ini mengalami peralihan-peralihan sebagai berikut :
Tahun 1812 - 1839 berada ditangan bangsa Inggris
Tahun 1840 - 1910 berada ditangan bangsa Belanda
Tahun 1911 - 1942 berada ditangan bangsa Inggris
Tahun 1942 - 1945 berada dibawah pemerintah Jepang
Tahun 1945 - 1948 berada dibawah pemerintahan Indonesia
Tahun 1949 - 1963 berada ditangan bangsa Inggris
Tahun 1964 - 1969 berada ditangan bangsa Indonesia
Tahun 1970 - Sejak 1 Januari 1970 sudah berbentuk Joint Venture
Tahun 1970-1972 Sejak tanggal 20 Juli 1970 status Perusahaan Perkebunan Negara Kesatuan Dwikora IV adalah menjadi milik Negara Indonesia
Tahun 1972 - 1973 Dikelola oleh PPS ( perusahaan Perkebunan Subang )
Tahun 1973 - 1979 Mulai tanggal 1 Maret 1973 sampai dengan tanggal 28 Pebruari 1979
Tahun 1979 -....... Mulai tanggal 1 Maret 1979 PT Perkebunan XXX dibubarkan dan dilimpahkan kepada :

1. PT Perkebunan XII
2. PT Perkebunan XIII
3. PT Perkebunan XIV

Tanggal 11 Maret 1996 di Subang terdiri dari tiga PTP :
1. PTP XI
2. PTP XII
3. PTP XIII
(www.kebunjalupang.blogspot.com)